Jumat, 31 Juli 2015

Bisik-Bisik - Reda Gaudiamo



Judul Buku: Bisik-Bisik
Penulis: Reda Gaudiamo
Penerbit: Eksotika Karmawibhangga Indonesia
Tahun Terbit: 2004

Kadang seseorang mengalami peristiwa yang biasa saja, kadang juga yang agak tidak biasa, dan sesekali luar biasa. Sialnya, seringkali semua itu tumpang tindih,sehingga kadang peristiwa biasa terasa luar biasa. Begitulah dua puluh tujuh cerita dalam Bisik-Bisik.

Peristiwa-peristiwa itu hampir semua ditampilkan lewat dialog para tokoh belaka, kecuali satu dua cerpen yang mengandung secuil narasi. Kadang dialog berkisar tentang masalah yang sedang dihadapi tokohnya. Pada “Kawin 2” seorang perempuan yang hamil duluan mendesak pacarnya untuk menikah, sedangkan lelaki itu berusaha menolak. Kadang tokoh-tokoh itu menggunjingkan orang lain. Pada “Bisik-Bisik 2” dua perempuan menggunjinkan keadaan rumah tangga seorang teman yang pestanya mereka datangi. Ada juga dialog-dialog yang terasa seperti ceracau dan yang ragu-ragu dan serba terserah. Pada “’Mong-Omong” seseorang ngomong tentang makanan, sedangkan seorang lagi ngomong tentang liburannya ke Singapura, film yang ditontonnya, dan temannya yang mau kawin. Pada “Jawab Aku” seorang istri minta pendapat tentang pilihan baju, celana, rok, dan gaya rambutnya, sedangkan suaminya ikut saja apa kata istrinya. Permasalahan dalam Bisik-Bisik ditampilkan lewat dialog belaka, lewat perdebatan, gunjingan, dan ceracau tokohnya.

Kecuali beberapa cerpen yang dialognya kurang jelas menyiratkan identitas tokohnya, dialog dalam Bisik-Bisik terjadi antara orang sedarah (orang tua dan anak atau adik dan kakak), pasangan (pacar atau suami-istri), dan teman (rekan kerja atau sekadar teman). Pada “Matinya Lelaki 1” seorang lelaki mengeluhkan keposesifan istri temannya yang mengganggu pekerjaan suaminya. Pada “Sayang” seorang suami secara tersirat menekankan hasratnya untuk memiliki anak lelaki pada istrinya. Pada “Bertanyalah” seorang perempuan, yang juga seorang guru, menyuruh murid-muridnya untuk banyak bertanya, sedangkan di rumah dia melarang anaknya untuk bertanya. Pada “Nonton” seseorang mengajak nonton orang yang berkali-kali menanggapinya dengan “kenapa?”

Hubungan antartokoh dalam Bisik-Bisik mengerucutkan kemungkinan topik obrolan, sehingga cerpen-cerpen itu umumnya bertopik hubungan pasangan (suami-istri, selingkuhan, atau pacar) –inilah yang paling banyak, hubungan anak-orang tua, dan pengaruh rumah pada kantor. Ada dua perspektif tentang pengaruh keadaan rumah tangga pada pekerjaan. Pertama, rumah tangga menghambat kerja, terutama jika pasangan sangat posesif, seperti yang tampak pada “Matinya Lelaki 1” dan “Matinya Lelaki 2”. Kedua, seseorang berusaha menyeimbangkan kehidupan rumah tangga dengan pekerjaan, seperti pada “24x60x60”. Sementara itu, cerita-cerita yang bertopik hubungan anak-orang tua menyiratkan masalah cara mendidik anak tentang hal-hal keagamaan, seperti pada “Minggu Pagi”, dan hal-hal umum, seperti pada “Bertanyalah” dan “Sidak”. Pada beberapa cerpen kepolosan anak maupun kecerdikannya menjadi sumber kelucuannya, seperti pada “Iman” dan “Masuk Surga”. Sementara itu, pernikahan, perselingkuhan, dan hubungan keluarga-menantu adalah permasalah yang banyak muncul dalam cerpen yang bertopik hubungan pasangan.

Dalam Bisik-Bisik ada cerpen yang sangat pendek –saya menggolongkan cerpen yang panjangnya kurang dari lima lembar ke dalamnya-- dan ada yang pendek –cerpen yang panjangnya lima lembar atau lebih. Cerpen yang sangat pendek umumnya berakhir dengan tohokan (punch line), seperti bagaimana seorang anak mengajak ibunya bicara tentang surga hanya untuk menggiring pembicaraan ke arah minta dibelikan es krim (“Masuk Surga”), atau bagaimana seorang ibu memarahi panjang lebar anaknya lewat telepon, menyadari bahwa yang memegang telepon adalah pembantunya (“Sidak”). Cerpen-cerpen sangat pendek dalam Bisik-Bisik cocok untuk mengisi kolom humor di majalah atau koran. Sementara itu, Cerpen yang tanpa embel-embel “sangat” memungkinkan persoalan di dalamnya digali lebih jauh, seperti pada “24x60x60”, “Menantu”, dan “Matinya Lelaki 2”.

Terakhir, di antara kisah-kisah tentang rumah tangga, pernikahan, dan anak-orang tua, terselip beberapa cerpen yang topiknya jauh sama sekali: “Skripsi” adalah cerita seorang mahasiswa yang berhadapan dengan dosen pembimbing yang rese. “Teman” adalah cerita dua lelaki yang datang ke pesta seorang kenalannya. Cerpen-cerpen ini membuat kumpulan cerpen ini kurang padu.

Bisik-Bisik adalah kumpulan cerita pendek dan sangat pendek tentang permasalahan antara suami-istri, anak-orang tua, dan rekan kerja, yang dituturkan dengan penuh canda.


Selasa, 21 Juli 2015

Josephine - Bondan Winarno



Judul Buku: Josephine
Penulis: Bondan Winarno
Penerbit: Gaya Favorit Press
Tahun Terbit: 1979

Miko adalah seorang bos sebuah biro iklan. Istrinya, Sonia, adalah seorang dokter. Mereka sudah delapan tahun menikah, tapi belum juga punya anak. Meskipun begitu, urusan ranjang mereka tidak kering. Suatu hari, dalam perjalanan bisnis, di pesawat Miko tak sengaja berkenalan dengan seorang pramugari bernama Josephine karena insiden sepele. Kesuburan rumah tangga Miko dan Sonia, dan perkenalan Miko dan Josephine adalah isyarat yang gamblang tentang pokok permasalahan dalam Josephine: hubungan laki-perempuan (istilah gagahnya: cinta).

Bab-bab awal berisi penggambaran kesibukan Miko sebagai bos biro periklanan. Dia sering bepergian ke luar negeri untuk pengerjaan proyek iklannya atau menghadiri konferensi asosiasi pengusaha periklanan. Selain itu, bab-bab awal juga berisi perkembangan hubungan Miko dan Josephine. Keakraban mereka pun hanya sampai teman makan dan bercerita kalau kebetulan Miko ke luar negeri, tidak sampai bergendak. Bahkan, hubungan Miko dan Sonia pun tetap hangat, walaupun dibayangi masalah kesuburan. Sayangnya, masalah kesuburan ini, bensin bagi masalah pokoknya, baru ditekankan setelah beberapa bab kemudian. Jadi, arah laju alur bab-bab awal kurang jelas. Bab-bab pertengahan berisi kegelisahan Miko atas hubungannya dengan Sonia dan Josephine, dan kekhawatiran Miko terhadap kemungkinan Sonia tahu tentang Josephine, khususnya kehamilan Josephine. Pada akhirnya Sonia dan Josephine bertemu di sebuah hotel di Jakarta secara tidak disengaja. Masalah terbesar dalampemplotannya terletak di bagian akhir. Banyak peristiwa terjadi secara kebetulan di dunia ini. Tapi, penggambaran kematian Josephine kurang meyakinkan sebagai sebuah insiden. Ditambah lagi, adegan itu ada di bagian akhir bab terakhir. Seakan-akan adegan itu diadakan untuk memberi kesan “sudah, ya, cerita ini berakhir di sini”. Pemplotan Josephine mengalir terlalu tenang, sehingga saya tidak hanyut saat membacanya, dan sangat terkejut dan jengkel saat membaca adegan terakhirnya.

Miko adalah orang yang santai dan humoris. Dengan istrinya dia sering berolok-olok. Hubungan dia dan pegawainya akrab. Pembawaan itu jugalah yang membuatnya tak begitu khawatir saat awal-awal kenal dengan Josephine. Di sisi lain, saat dihadapkan pada pilihan antara Sonia atau Josephine, pembawaan itu justru tampak seperti mencla-mencle. Untungnya, Miko memiliki istri seperti Sonia. Perempuan itu memiliki pembawaan tenang dan ceria. Saat menyadari hubungan Miko dan Josephine, awalnya dia merasa terpuruk, dan menyuruh Miko mengejar Josephine saja. Tapi, akhirnya dia sabar menghadapi Miko yang bimbang. Walaupun Sonia bukan sorotan utama, sifatnya paling beragam diulik. Miko dan Sonia adalah tokoh dalam Josephine yang wataknya cukup dalam digali.

Jaman sekarang Bondan Winarno lebih dikenal sebagai seorang pembawa acara wisata kuliner ketimbang sebagai penulis fiksi. Meskipun begitu, sebenarnya wajar jika sekarang dia berprofesi begitu. Dari sate kambing sampai anggur Chateau Latour berusia 32 tahun disantap atau setidaknya disebutkan Miko. Kurang lebih ada 53 jenis minuman dan makanan disebutkan dalam Josephine, pertanda bahwa Bondan Winarno adalah seorang wisatawan kuliner sejak dahulu.

Josephine adalah kisah tentang kebimbangan dalam kesetiaan suami-istri dalam cinta segi tiga yang mengalir terlalu tenang dan diakhiri terlalu gampang, tapi cukup diselamatkan oleh tebaran bumbu-bumbu makanan yang berlimpah.

Kamis, 16 Juli 2015

While We're Young - Noah Baumbach

Judul Film: While We’re Young
Sutradara: Noah Baumbach
Aktor: Ben Stiller, Naomi Watts, Adam Driver, Amanda Seyfried
Rumah Produksi: Scott Rudin Production
Tahun Rilis: 2014

Josh Schrebnick adalah seorang pria berusia 40 tahunan. Dia seorang sutradara film dokumenter. Film keduanya belum selesai walau sudah delapan tahun dia garap. Istrinya yang usianya tak jauh beda dengannya, 40 tahunan, Caroline, adalah seorang produser dan anak seorang sutradara film dokumenter ternama, Leslie Breitbart. Dalam hubungan profesional orang perfilman, Jamie menjaga jarak dari mertuanya. Ini berpengaruh pada hubungan mantu-mertua mereka. Ditambah lagi, teman dekat mereka baru saja memiliki seorang bayi, sedangkan mereka belum punya. Caroline sempat keguguran. “Keadaan awal” tokoh utama While We’re Young yang sejak awal ditamplikan dengan lancar menjanjikan pergolakan personal yang berlapis.

Jamie Massey adalah seorang pria berusia 20 tahunan. Dia ingin jadiseorang sutradara. Dia menggemari hal-hal jadul. Pada suatu kuliah umum Josh dia datang bersama Darby, istrinya, lalu berkenalan dengan Josh dan memuji film pertamanya. Sejak saat itu Josh dan Jamie makin akrab. Josh dan Caroline jadi lebih sering nongkrong dengan Jamie dan Darby ketimbang teman-teman seumurannya. Keakraban itu pula yang akhirnya membuat Josh memberikan kru dan narasumber filmnya, dan relasi perfilmannya dengan suka rela pada Jamie –bahkan Caroline memproduseri filmnya. Tapi, ternyata Jamie berbohong tentang banyak hal. Dia belum pernah menonton film Josh. Narasumber filmnya yang awalnya diketahui Josh sebagai teman lama Jamie yang kebetulan mengajak berteman lagi lewat Facebook, ternyata telah direka jauh-jauh hari oleh Jamie. Semua keakraban itu adalah muslihatnya agar mendapatkan sumber daya perfilman yang dimiliki Josh. Jamie sudah mendapatkan segalanya saat Josh baru benar-benar menyadari semuanya. Jamie adalah pedang bermata dua bagi Josh. Kehadirannya menumbuhkan kembali daya hidup Josh di tengah kemelut. Di sisi lain, diam-diam dan perlahan persentuhannya dengan Jamie menuntun Josh untuk menghadapi pergolakan batinnya. Perlu dicatat: Adam Driver sangat cakap memerankan tokoh lick berwajah sok polos ini, sehingga tampak simpatik. Pergolakan batin tokoh utama While We’re Young makin berkobar karena kehadiran tokoh “kompor” yang simpatik.

Perkembangan dua tokoh pendamping dalamWhile We’re Young –kebetulan keduanya perempuan— turut andil dalam perkembangan tokoh utamanya. Pada awal perkenalannya Caroline menduga bahwa Jamie menyadari Josh adalah suami Caroline, anak Leslie Breitbat. Karena mereka sering nongkrong dan Josh meyakinkannya, Caroline akhirnya ikut kata suaminya. Ketika Josh semakin sadar bahwa Jamie adalah orang yang licik, justru Caroline telanjur berpihak pada Jamie, walaupun keberpihakan itu banyak juga disebabkan oleh tingkah Josh yang makin hari makin menjengkelkan. Sementara itu, pada awalnya peran Darby bagi kelangsungan cerita sangat minim. Tapi, ternyata dia adalah pemegang kunci rahasia Jamie sekaligus kunci pintu kesadaran Josh.

Josh sangat marah pada Jamie karena pemuda itu mencapai kesuksesan sebagai seorang sutradara dengan film dokumenter penuh kebohongan dan memperdaya banyak orang. Tentang pencapaian Jamie, Leslie pernah bilang pada Caroline bahwa kadang cara apa pun sah saja untuk mencapai suatu tujuan, dan begitulah cara kerja dunia ini. Josh belum bisa menerima kenyataan itu. Itu satu persoalan dalam While We’re Young. Persoalan lainnya tampak pada kembalinya daya hidup Josh saat berkenalan dengan Jamie,dan pada pandangan Josh tentang keguguran Caroline dan teman sebayanya yang punya anak. Dua lapis persoalan yang ditunjukkan dalam While We’re Young adalah pencapaian dan menjadi tua.

While We’re Young adalah kisah pergolakan personal tentang pencapaian dan menjadi tua yang disajikan lewat tokoh-tokoh dinamis yang kehadirannya saling mempengaruhi dan meminyaki konfliknya, sehingga akhir getirnya bukan berarti segalanya padam.


Rabu, 15 Juli 2015

Katanagatari - White Fox

Katanagatari – White Fox
Judul Anime: Katanagatari
Rumah Produksi: White Fox
Sutradara: Keitaro Motogana
Jumlah Episode: 12 episode
Masa Tayang Asli: 26 Januari 2010-11 Desember 2010

Seorang penerus satu-satunya aliran pedang terkuat di Jepang, Yasuri Shichika, direkrut oleh seorang ahli strategi Shogunate, Togame, untuk mengumpulkan dua belas pedang keramat karya seorang empu pedang legendaris, Shikizaki Kiki. Selain oleh para pemilik pedang keramat itu, mereka juga dirintangi oleh semarga ninja mantan abdi Shogunate yang membelot, marga Maniwa. Di tengah jalan mereka dikonfrontasi oleh kubu yang sebelumnya samar, Putri Hitei dan ajudannya, Soda Emonzaemon. Petualangan pengumpulan pedang keramat Shikizaki Kiki itu sedikit demi sedikit menguak rahasia Shichika dan Togame yang berakar pada sejarah pendirian aliran Kyotouryuu, aliran pedang yang diteruskan oleh Shichika, dan upaya kudeta Shogunate oleh marga Hida yang gagal. Awalnya, petualangan dalam Katanagatari tampak seperti pengumpulan pedang belaka, lalu seiring perjalanannya, ternyata tokoh utamanya terlibat dalam urusan besar.

Kyotouryuu adalah aliran pedang tanpa pedang. Pedang dalam aliran ini adalah tubuh dan jiwa sang samurai. Di tambah tinggal selama dua puluh empat tahun di pulau pengasingan keluarganya, maka pada episode pertama Katanagatari Yasuri Shichika adalah sebuah pedang, seseorang yang datar, “tak berperasaan”, dan buta tentang dunia luar. Ninja Maniwa membelot dari Shogunate karena mereka sadar harga pedang keramat, dan Sabi Hakukei membelot karena sadar bahwa pedang keramat itu meningkatkan prestise dan kemampuannya sebagai samurai, maka Togame memberi alasan yang menihilkan kemungkinan membelot bagi Shichika untuk menyetujui perekrutannya: Shichika mesti jatuh cinta pada Togame. Shichika akhirnya menyetujui alasan itu, tapi meskipun berkali-kali bilang cinta pada Togame –sebagai sebuah slogan (catchphrase), tak sedikit pun tingkahnya menunjukkan “rasa cinta”. Saat mereka menginap di kamar yang sama, berendam bersama, dan Togame bugil, kemungkinan untuk menunjukkan “cinta” besar, Shichika lempeng saja. Bahkan, saat Kanara Azekura, pemilik “pedang” Zokuto Yoroi, bilang bahwa bila dia menang dalam pertarungan, Togame mesti jadi pacarnya, Shichika lempeng saja. Awalnya, bukan cinta, pada Togame Shichika hanya patuh, sebagaimana pedang pada samurai. Tapi, seiring persinggungannya dengan para pemilik pedang keramat dan masalah pribadi mereka, Shichika makin “hidup”. Sekedar menyebut beberapa lagi: Ginkaku Uneri, pemilik Zantou Namakura, mengajarkannya kesetiaan. Tsuruga Meisai, pemilik Sentou Tsurugi, membuatnya berpikir tentang membunuh dan alasan untuk bertarung. Lalu, sosok yang membuka lebar keran nuraninya adalah Higeki Rinne, pertapa pemilik Seitou Hakari. Sejak episode satu sampai episode terakhir Katanagatari kita bisa melihat perkembangan kepribadian Yasuri Shichika, dari orang yang datar sampai bisa mengekspresikan luapan emosinya.

Sedikit omong-omong tentang perkara teknis: hal yang pertama-tama membuat saya jatuh cinta pada serial ini adalah rancangan tokohnya dan latarnya. Rancangan mata tokohnya sangat sederhana ketimbang rata-rata tokoh anime. Rancangan busana tiap tokoh pun mencolok. Dari busana Shichika yang setengah telanjang, yang didominasi warna merah, sampai busana ninja Maniwa yang didasarkan pada tema binatang. Sementara itu, latarnya digambarkan ala Ukiyoe. Latar dalam ruangan kadang diberi sentuhan tiga dimensi (silakan tonton episode Shichika vs Yasuri Nanami dan Shichika vs Kiguchi Zanki). Pada adegan interior pun banyak terdapat pembingkaian (framing). Eksperimen artistik yang paling gila ada di episode 7. Pada episode itu beberapa adegan digambarkan dengan mencomot adegan beberapa game. Sementara itu, teknik penceritaan yang banyak dipakai adalah pengisyaratan (foreshadowing). Anime ini dibuka dengan adegan pembantaian di kastil marga Hide. Kaitannya dengan hubungan antara Togame dan Shichika dikuak perlahan-lahan. Pada episode yang sama Nanami bilang bahwa Shikizaki Kiki adalah teman akrab pendiri aliran Kyoutoryuu, sebagai jawaban atas pertanyaan Togame saat hendak menjelaskan tentang empu pedang legendaris itu. Jawaban itu ditertawakan Togame, tapi menjelang tamat omongan yang ditampakkan sebagai suatu obrolan yang tak berarti itu ternyata sangat vital. Pada episode 6, dalam perjalanan di tengah padang salju berbadai, Togame, yang lemas karena cuaca, omong sangat panjang tentang menyerah seolah akan mati. Adegan itu digambarkan dengan kocak. Pada akhir episode 11 Togame mengatakan hal yang sama persis dengan adegan itu, tapi dengan nada adegan yang sangat bertolak belakang. Terakhir, teknik penceritaan yang menggemaskan sampai ingin memukul orang digunakan pada episode 4: adegan offscreen. Pada akhir episode 3, pada bagian pratinjau episode 4 adegan pertarungan maha dahsyat antara Shichika dan Sabi Hakuhei, samurai terkuat di Jepang, di pulau Ganryuu ditunjukkan sepotong-sepotong. Tapi, episode 4 justru berisi pertarungan Nanami dan tiga orang ninja Maniwa, sementara pertarungan Shichika dan Sabi hanya diberitahukan lewat obrolan paskapertarungan oleh Shichika dan Togame.

Katanagatari adalah kisah petualangan yang makin ke sini makin kompleks dengan rancangan visual dan teknik penceritaan yang memikat, yang menunjukkan bahwa jalan pedang, seperti jalan lainnya, adalah jalan bagi seseorang untuk “menjadi manusia”. Cheerio!


Minggu, 05 Juli 2015

Perang - Rama Wirawan



Judul Buku: Perang
Penulis: Rama Wirawan
Penerbit: Jalasutra
Tahun Terbit: 2005

Ada seorang pemuda. Kegiatan yang seru bagi dia adalah diskusi tentang pemikiran. Sejak masa kuliah sampai sampai kerja di sebuah percetakan dia tak menemukan teman untuk melakukannya. Selain itu, dia mendambakan seseorang yang spesial untuk jadi kawan hidup. Naluri berontak dan hasrat untuk diskusinya tinggi, tapi tak kunjung tersalurkan. Dia merasa bosan. Dialah Perang Hayat. Pergolakan Perang Hayat untuk mengatasi kebosanan adalah fokus dalam Perang.

Adalah Deni, seorang kenalan yang punya reputasi kurang baik di kantor, pintu menuju solusi atas kegelisahan Perang. Dengan Deni Perang berdiskusi tentang punk, neoliberalisme, alienasi kerja, anarkisme, ekspresi diri, dst. Deni membuat dia berkenalan dengan sebuah komunitas punk di sebuah taman kota dan distro punk di selatan Jakarta. Hasrat Perang untuk diskusi tersalurkan. Kebosanannya atas lingkungan kerjanya terobati. Masalahnya adalah penggambaran adegan diskusi itu tampak seperti buku teks tentang paham-paham yang dijadikan dialog. Kaku. Rasanya seperti sedang kuliah saja. Ditambah lagi, pada adegan diskusi itu seringkali Perang dikesankan seperti orang yang baru tahu tentang topik yang dibicarakan, walaupun dia mengaku pernah membaca buku yang berkaitan, walaupun dia mengaku sejak kuliah dia suka membaca buku politik dan filsafat. Penggambaran cara Perang bertanya dalam kebanyakan diskusi mengesankan bahwa itu ditulis hanya supaya diskusi itu terasa seperti orang mengobrol, bukan esai panjang tentang pengantar isme-isme, dst. Yang penggambarannya meyakinkan paling-paling hanya saat Deni dan Perang diskusi tentang ekspresi diri, cara berontak, dan kompromi. Dalam obrolan itu Denisebenarnya sempat meledek diskusi tentang isme-isme itu. Itu terdengar seperti ledekan terhadap orang-orang yang suka diskusi tentang isme-isme dengan cara yang impersonal dan mengawang. Tidak bisa dimungkiri bahwa adegan diskusi dalam Perang memberikan pengetahuan tentang topiknya, tapi cara adegan itu digambarkan membuatnya jadi terasa kaku, padahal itu adalah unsur penting dalam pengatasian masalah Perang Hayat.

Ada hal lain yang jadi dambaan Perang Hayat: seorang kawan hidup untuk hidup yang remang ini, dengan kata lain pacar. Perang sempat bercerita tentang kecengannya yang bernama Via. Sayangnya, Via itu tipe perempuan yang suka ke mall, belanja, dst. Bahkan tentang komunisme, dia sempat membuat komentar yang membuat Perang ilfil. Via jelas-jelas bukan tipe Perang. Cerita tentang Via berada di awal novel, berfungsi untuk memberi penekanan akan keterasingan Perang. Setelah Deni dkk. “membebaskan” Perang, dambaan tentang pacar ini mewujud dalam mimpi. Lalu, perkenalannya dengan Adit sang pengamen cilik mengantarnya bertemu Mirah,  kenalannya semasa kuliah yang pernah bicara tentang subversi dan cinta. Pada mimpi pertama Perang tetang kawan hidup itu identitas perempuan itu buram, sedangkan setelah bertemu Mirah, ternyata perempuan itu adalah Mirah. Ya, mimpi itu muncul dua kali, dan digambarkan dengan kalimat yang sama dengan sedikit variasi. Sebenarnya pada mimpi pertama Perang merasa suara perempuan itu pernah dia dengar. Itu petunjuk bahwa dia adalah Mirah. Masalahnya adalah pembicaraan Perang dan Mirah tentang subversi dan cinta yang terjadi semasa mereka kuliah, baru dibahas setelah Perang bertemu Mirah lewat Adit. Jadi, walaupun bagi Perang Mirah adalah orang masa lalu yang sempat diabaikannya, tapi ternyata dialah perempuan yang dia inginkan jadi kawan hidup, bagi pembaca Mirah adalah tokoh yang peran pentingnya bagi kisah Perang dinodai oleh keujug-ujugan kemunculannya.

Walaupun di sana-sini bertebaran pembahasan tentang isme-isme dan hal-hal besar lainnya, Perang berfokus pada permasalahan yang personal: seorang pemuda ingin diskusi dan punya pacar yang mengerti dia untuk menyeimbangi lingkungan kerja yang membosankan. Justru karena kepersonalan permasalahannya, maka wajar bila di akhir cerita tokoh utamanya mendapatkan dua hal yang dia inginkan.Perang itu kisah yang kepersonalan masalahnya membuat akhir bahagia terasa wajar, walaupun mesti melibatkan omong-omong besar gara-gara tokoh utamanya tertarik pada topik itu.