Minggu, 06 September 2015

Keberanian Manusia - Motinggo Busye



Judul Buku: Keberanian Manusia
Penulis: Motinggo Busye
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1988

Jangan nilai buku dari sampulnya. Barangkali itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kumpulan cerpen ini. Cerpen yang jadi judul buku ini mengandung tema yang menyimpang dari cerpen-cerpen lain. Meskipun begitu, seluruh cerpen dalam Keberanian Manusia mengandung suasana yang tergambarkan oleh sampulnya: Awan hitam di langit kelabu dan siluet daratan berwarna merah kejinggaan.

Kecuali cerpen Keberanian Manusia, cerpen-cerpen dalam buku ini bercerita tentang  hubungan laki-perempuan. Tuhan dengan Suatu Malam dan Senjata bercerita tentang perselingkuhan. Seorang tentara meminta bantuan seorang asing untuk membunuh selingkuhan istrinya. Seorang penjaga palang pintu sepur mengajak kawin seorang mantan pelacur setelah membunuh istri dan selingkuhan istrinya. Tukang Grafir, Kota Kami Dulu, dan Lima Belas Tahun Tidak Lama bercerita tentang perkawinan. Seorang tukang grafir yang khawatir anaknya akan jadi perawan tua tidak sengaja bertemu dengan seorang lelaki yang hendak menikahi anaknya. Seorang kakak menuntut pertanggungjawaban temannya karena menghamili adiknya. Seorang tukang sepatu tua melamar seorang gadis yang diperhatikannya selama lima belas tahun. Pisau Karton dan Amini bercerita tentang kebujangan. Seorang aktor yang membujang teringat pada masa kecilnya, pada ayahnya yang aktor, dan pada ibunya yang cemberut karena pekerjaan ayahnya. Seorang janda yang disyaki orang-orang disekitarnya ditaksir seorang tukang pos yang pemalu. Restoran Masih Buka dan Mainan Keluarga bercerita tentang cinta yang kandas. Seorang pelukis mantan mayor menyimpan dendam pada seorang perempuan karena lamarannya pernah ditolak orang tua perempuan itu. Setelah upaya keras, seorang pebisnis sawit menikah dengan seorang perempuan yang ibunya ternyata mantan pacar bapaknya. Kecuali cerpen yang berjudul sama dengan kumpulan cerpen ini, cerpen-cerpen dalam Keberanian Manusia berisi kisah tentang perselingkuhan, perkawinan, dan kebujangan.

Cerpen-cerpen dalam buku ini mengandung beragam suasana. Ada yang berubah, ada juga yang tetap. Tukang Grafir, Kota Kami Dulu, dan Lima Belas Tahun Tidak Lama adalah cerita yang beralih dari muram ke terang. Seorang tukang grafir akhirnya lega setelah bertemu dengan lelaki yang hendak melamar anaknya. Meskipun begitu, hal ini bisa saja keliru, karena itu adalah tafsiran tukang grafir itu. Dia menafsir demikian karena nama perempuan yang hendak dilamar lelaki itu mirip dengan nama anaknya dan keterangan ponakannya tentang lelaki yang mengencani anaknya. Tak ada penggambaran tersurat apakah orang yang dimaksud adalah anak tukang grafir itu. Oleh karena itu, di sisi lain, cerita ini bisa dianggap ngambang. Sementara itu, seorang kakak akhirnya mendapatkan kepastian dari temannya bahwa dia akan menikahi adiknya yang dihamilinya. Lalu, setelah lima belas tahun, akhirnya seorang tukang sepatu tua melamar seorang gadis yang sejak anak-anak diperhatikannya. Pisau Karton dan Senjata adalah cerita yang berubah dari muram ke temaram yang menyayat. Setelah mengingat masa kecil dan hubungan orang tuanya, dan membandingkan keadaan dirinya dengan lakon yang dia mainkan, seorang aktor membayangkan seorang perempuan mengajaknya bicara. Seorang tentara meminta seorang asing untuk menembak selingkuhan istrinya karena ternyata tangannya buntung. Restoran Masih Buka, Mainan Keluarga, dan Amini adalah cerita dengan sentuhan canda. Seorang pemilik restoran lempeng saja menyaksikan perang dingin seorang pelukis dan mantan pacarnya. Seorang pebisnis sawit berkelakar tentang kegagalan almarhum bapaknya menikahi ibu istrinya dahulu. Seorang tukang pos begitu gugup akan janda yang ditaksirnya sampai-sampai dia memungkiri surat yang diam-diam dia berikan padanya. Keberanian Manusia adalah kumpulan cerpen yang berisi perubahan dari muram ke terang, muram ke gelap menyayat, dan sentuhan canda.

Cerpen Keberanian Manusia sendiri berisi suatu perbandingan dari sudut pandang seorang anak. Dia membandingkan tindakan seorang manusia (pamannya) dan gerombolan monyet pada masa perang dunia kedua. Pamannya melawan karena kelaparan dan dipaksa kerja oleh Jepang. Gerombolan monyet itu menjarah kota karena habitat mereka dibumihanguskan oleh pesawat perang. Pamannya mati ditembak Jepang. Pengisahannya lugu karena diceritakan dari sudut pandang seorang anak, walaupun itu adalah pengenangannya saat dewasa. Ada sentuhan humor pada berantem antara anak itu dan kakaknya. Cerpen Keberanian Manusia menonjol karena temanya kontras dengan cerpen lainnya, dan judulnya paling “gagah”.

Keberanian Manusia adalah kumpulan cerpen tentang perkawinan, kebujangan, dan perselingkuhan bersuasana temaram tapi juga disentuhi humor, dan mengandung satu cerita yang (dalam bahasa Sunda) mahiwal.