Jumat, 28 Oktober 2016

Sebuah Lorong Di Kotaku - Nh Dini



Judul Buku: Sebuah Lorong Di Kotaku
Penulis: Nh Dini
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2005 (pertama kali terbit tahun 1978)

Sebuah Lorong Di Kotaku berisi pengamatan seorang anak perempuan berusia menejelang kelas nol atas peristiwa publik dan peristiwa privat di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada masa akhir pendudukan Belanda dan masa awal pendudukan Jepang di Indonesia.

Anak itu adalah Dini, seorang bungsu dari empat bersaudara. Bapaknya adalah seorang komis di perusahaan kereta api. Ibunya ibu rumah tangga. Mereka adalah keluarga yang cukup berada karena bisa mempekerjakan pembantu. Mereka tinggal di Sekayu, Semarang. Kakek-nenek dari pihak ibunya adalah kalangan menak yang tinggal di Ponorogo, sementara kakek-nenek dari pihak bapaknya adalah kalangan ahli spiritual yang tinggal di Tegalrejo.

Peristiwa privat yang dialami Dini adalah menangkap ikan bersama bapak dan kakak-kakaknya dari bendungan banjiran sungai Semarang yang masuk ke halaman rumahnya dan mengunjungi kakek-neneknya di Tegalrejo dan Ponorogo. Sementara itu, peristiwa publik yang dialaminya adalah hari-hari pertama sekolah di kelas nol dan pengungsiannya saat hari-hari pertama Jepang menduduki Indonesia.
Kunjungan keluarga Dini ke rumah kakek-neneknya memberi petunjuk tentang latar belakang sikap orang tuanya terhadap Dini dan kakak-kakaknya. Ibu Dini berasal dari keluarga menak yang formal. Rumah Pak Gede dan Bu Gede –sebutan yang dipilih kakek-nenek Dini dari pihak ibu— dipenuhi tata krama yang mengikat. Misalnya, saat datang Dini sekeluarga mesti mencium kaki Pak Gede dan Bu Gede, anak-anak hanya boleh memakan makanan sisa orang tua, selama di sana bapak dan ibu Dini banyak memperingatkan anak-anaknya tentang sikap mereka, dst.. Maka, wajarlah ibu Dini mendidik anak-anaknya dengan sikap yang tegas dan eksplisit. Misalnya, anak-anak tidak boleh bicara kalau makan, hanya boleh membeli barang-barang oleh-oleh sementara makanan harus menyiapkan sendiri saat bepergian, ibunya memarahi anak-anak saat mereka pulang terlalu sore dari bermain, ibunya melarang anak-anak untuk pergi ke Gedung Harmoni untuk mengambil barang-barang yang tersisa di sana setelah penyerangan Jepang, dst.. Sebaliknya, bapak Dini justru orangnya lebih santai. Dia bermain-main kotor-kotoran dengan anak-anak di tengah perjalanan sampai-sampai ditegur istrinya. Dia diam-diam bersama Dini dan kakaknya, Maryam, memelihara burung, binatang peliharaan yang sebenarnya tidak disukai istrinya. Dia pun memperbolehkan anaknya untuk ikut bersamanya ke Gedung Harmoni. Bapak Dini berasal dari keluarga ahli spiritual yang sikapnya lebih terbuka. Kyai Wiryabesari, kakek Dini itu, memperbolehkan anak-anak untuk bicara di tengah-tengah makan dan memperbolehkan anak-anak untuk memakan makanannya sendiri, memperbolehkan anak-anak untuk mengambil buah-buahan yang ada di kebun, dst.. Keterbukaan sikap ini wajar apalagi kalau mengingat bahwa Kyai Wiryabesari memiliki banyak murid spiritual.

Dalam peristiwa-peristiwa itu pun tampak kecenderungan Dini pada nilai-nilai tertentu atau pada orang-orang tertentu. Dalam kaitan dengan kakek-neneknya, Dini lebih sepakat dengan etika di rumah Kyai Wiryabesari. Lebih lanjut, kecenderungan ini tampak pada kerelaan Dini untuk mengikuti ajaran-ajaran kakeknya, seperti berpuasa bukan demi agama atau pahala, melainkan demi mengendalikan diri dan mengenal diri sendiri. Dini tidak suka ‘dianak-kecil-anak-kecilkan’. Makanya, dia kurang bisa akrab dengan salah satu kakaknya, Nugroho, yang suka memperlakukannya demikian. Lebih dari itu, Dini tidak suka dengan sikap kakaknya yang gampang saja main fisik. Dia suka pada orang-orang yang punya kehalusan hati. Dini lebih suka pada orang-orang yang bisa bersikap sejajar dengan dirinya. Makanya, dia lebih suka pada keluarga Kyai Wiryabesari daripada keluarga Pak Gede. Makanya juga, dia lebih suka pada Maryam daripada kakak-kakaknya yang lain. Nugroho dan Teguh suka menganak-kecilkannya, sementara Heratih, kakaknya sulung, lebih bersikap sebagai pamong daripada kawan. Daripada dengan kakaknya lelaki, Dini lebih menunjukkan keakraban dengan pamannya yang umurnya tidak jauh lebih tua dari Heratih, Paman Sarosa.

Di antara peristiwa-peristiwa itu terselip petunjuk tentang keberpihakan bapak Dini dalam urusan politik. Bapak Dini mendenda anak-anaknya yang berbahasa Belanda di rumah. Dia mewajibkan anak-anaknya berbahasa Jawa di rumah. Dalam kedudukannya sebagai pegawai jawatan kereta api, dia merasa diperlakukan tidak adil oleh atasannya dalam hal honor. Saat mengetahui alat-alat musik yang diajarkan di sekolah Dini (terompet, harmonika, dan gitar –alat-alat musik Eropa), bapak Dini mencemooh kebijakan pendidikan budaya di sekolah anaknya itu. Oya, bapak Dini adalah orang Taman Siswa. Bapak Dini bukan orang yang pro-Belanda.

Sebuah Lorong Di Kotaku adalah upaya seorang anak untuk melacak asal-usul nilai-nilai yang ada di lingkungannya dan memilah-milih mana yang disepakatinya atau tidak disepakatinya dengan disertai alasan-alasannya.

Rabu, 26 Oktober 2016

Dian Yang Tak Kunjung Padam - Sutan Takdir Alisjahbana



Judul Buku: Dian yang Tak Kunjung Padam
Penulis: Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit: Dian Rakyat
Tahun Terbit: 1980 (terbit pertama kali tahun 1932)

Dian yang Tak Kunjung Padam menceritakan sikap sepasang pemuda-pemudi dalam menghadapi gelora cinta kawula muda yang dipisahkan golongan sosial selebar sungai Musi.

Pemuda itu bernama Yasin, seorang yatim berusia dua puluh tahun yang tinggal dengan ibunya. Dia seorang petani para yang tinggal di tepian sungai Lematang, dan dengan demikian tergolong ke dalam orang Uluan, kalangan yang tinggal di pedalaman Sumatera Selatan dan dianggap kalangan yang tidak maju. Leluhurnya adalah orang Gunung Megang. Dari leluhurnya itu dia punya saudara jauh yang tinggal di Penanggiran. Salah satu saudaranya itu adalah seorang pesirah (kepala marga).

Pemudi itu bernama Molek, seorang gadis tujuh belas tahun yang dipingit oleh orang tuanya. Dia adalah anak saudagar bernama Raden Mahmud. Mereka tinggal tak jauh dari daerah Enambelas Ilir, suatu daerah perdagangan di Palembang. Mereka tergolong ke dalam orang Ilir, kalangan yang tinggal di hilir sungai Musi dan dianggap dekat dengan kemajuan.

Rasa cinta mereka tumbuh setelah keduanya tidak sengaja bertemu pandang saat Yasin menepikan kajangnya di tepian sungai Musi di dekat Enambelas Ilir sementara Molek sedang melihat pemandangan sungai Musi lewat jendela rumahnya.
Meskipun demikian, sebenarnya sepanjang cerita kuantitas kontak langsung mereka bisa dihitung dengan jari. Mereka berhubungan lewat surat yang ditulis dalam aksara Arab –sebenarnya Molek juga menguasai aksara Belanda (aksara Latin)— dan diselipkan di tempat Molek biasa mandi. Pola komunikasi ini adalah siasat yang ditempuh keduanya –pertama-tama, Yasin— karena menyadari kedudukan masing-masing. Selain itu, pola komunikasi ini juga menunjukkan betapa tulisan bisa dijadikan suatu sarana untuk mengatasi hambatan-hambatan fisik. Lebih dari itu, kalau melihat intensitas perasaan Molek dan Yasin, di sini di tengah hambatan-hambatan itu tulisan dianggap cukup untuk mewakili kehadiran penulisnya. Keberaksaraan punya peran penting dalam buku ini.

Meskipun demikian, khususnya untuk kasus Molek, rasa cukup itu lebih banyak juga dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor itu adalah isolasi. Molek terisolasi dari dunia luar karena pemingitannya. Dia bersentuhan dengan dunia luar hanya kalau mandi atau sesekali membeli sesuatu yang tak jauh dari rumahnya. Selain itu, sarana dia untuk melihat dunia luar adalah jendela dapurnya. Banyak juga adegan yang melibatkan jendela. Isolasi yang dialami Molek membuatnya merasa tulisan Yasin adalah Yasin itu sendiri. Dia membawanya ke mana-mana di balik kutangnya dan melindunginya dengan cara membungkusnya.

Lebih jauh lagi, isolasi itu sangat berpengaruh pada cara Molek memandang cinta, kebangsawanan, dan kehidupan setelah kematian.

Karena terisolasi, justru Molek tidak terlalu terpengaruh oleh prasangka-prasangka golongan sosial yang dipegang oleh orang tuanya. Raden Mahmud dan istrinya, sebagai orang Ilir, memandang orang Uluan (Yasin) lebih rendah dan tidak pantas berkerabat dengan mereka. Dalam mempertimbangkan kedudukan Yasin, justru Molek tidak menjadikan pandangan itu suatu pijakan. Molek justru mendasarkan pertimbangannya pada perasaannya, pada rasa cintanya. Ketimbang gengsi kebangsawanan, Molek lebih memilih cinta. Karena cintanya terhambat oleh gengsi kebangsawanan, Molek merasa kedudukan bangsawan adalah suatu beban.

Di sisi lain, justru isolasinya membuat pandangan Molek tentang cinta kelewat mengawang. Dia tidak bisa menolerir sekecil pun cacat dalam cinta. Dia beranggapan bahwa cinta itu harus kudus sepenuhnya. Ketika pada akhirnya dia gagal kabur dari perjodohannya dengan Sayid Mustafa, seorang hartawan Arab, Molek justru malah menganggap dirinya kotor dan tidak pantas lagi bagi Yasin, padahal penilaian dan perasaan Yasin atasnya tidak berubah sedikit pun dan Yasin tetap bersedia berhubungan diam-diam dengannya. Karena pandangan cintanya yang mengawang itu, pada akhirnya Molek mengambil keputusan yang fatal.
Molek dididik secara Islam. Dalam agama ini diyakini adanya kehidupan setelah kematian. Tapi, dalam konteks ini, tentu saja tidak semua kematian mengantar seseorang pada kehidupan akhirat yang menyenangkan. Bunuh diri bukan salah satunya. Tapi, karena isolasinya itu, Molek yang dididik secara Islam, justru memiliki pandangan lain tentang bunuh diri. Dia menganggap itulah satu-satunya jalan untuk menyucikan dirinya agar bisa tetap pantas bagi Yasin –ingat pandangan Molek tentang cinta!

Yasin sendiri menyikapi hubungannya dengan Molek secara lebih realistis dan kompromistis. Memang, rasa cintanya tidak kalah dari Molek. Tapi, karena dia lebih banyak bersentuhan dengan dunia luar, tindakannya lebih disesuaikan dengan apa yang mungkin dilakukan secara umum. Dia sadar dengan kedudukannya sebagai orang Uluan yang dicemoohkan oleh orang Palembang. Makanya, dia meminta bantuan sokongan dana dari saudara-saudaranya untuk memenuhi uang jujur (semacam mas kawin) yang sesuai dengan standar saudagar. Setelah lamarannya ditolak, Yasin berusaha untuk membawa Molek kabur. Setelah itu gagal juga, dia pun tidak keberatan tetap berhubungan diam-diam setelah Molek dikawinkan dengan Sayid Mustafa.

Di balik jatuh bangun hubungan Yasin dan Molek terdapat suatu gengsi yang besar. Gengsi inilah yang membuat Raden Mahmud dan istrinya tetap menolak lamaran keluarga Yasin, bahkan walaupun mereka mempunyai uang jujur yang cukup. Prasangka-prasangka antara orang Iliran dan Uluan berperan kuat di sini. Sialnya, gengsi itu berlaku bukan hanya dalam urusan antara dua kalangan itu, orang yang memiliki kedudukan tinggi pun demikian. Talib, saudara Yasin yang seorang talib, menolak untuk menjadi wali Yasin dalam lamarannya pada keluarga Molek karena khawatir pamornya akan turun kalau lamarannya itu ditolak. Talib pun secara tidak langsung mengakui rendahnya kedudukan Yasin walaupun dia saudaranya dan rela membantu secara ekonomi.

Dian yang Tak Kunjung Padam adalah suatu sorotan atas pengisolasian dengan cara menonjolkan dampak-dampaknya dalam kaitannya dengan pandangan seseorang atas sesuatu, dalam hal ini cinta dan gengsi kebangsawanan.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Kemelut Hidup - Ramadhan KH



Judul Buku: Kemelut Hidup
Penulis: Ramadan K.H.
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1977

Kemelut Hidup berisi upaya seorang pensiunan pegawai negeri untuk tetap bisa membiayai keluarganya dan mengatasi segala persoalan yang timbul karena pensiunnya itu dalam bolak-baliknya antara Bandung-Jakarta.
Pensiunan itu adalah Drs. Abdurrahman Prawiradikusumah. Sebelum pensiun dia adalah pejabat tinggi di suatu departemen yang berhubungan dengan tenaga kerja –dia tahu tentang info suatu jabatan di ILO—dan pabrik –semasa menjabat dia punya wewenang untuk memberi izin operasi suatu pabrik (kemungkinan departemen tenaga kerja dan transmigrasi atau departemen perindustrian). Nama panjangnya dan informasi tentang almarhum bapaknya yang disebutkan dalam kata sambutannya di hari pensiunnya menyiratkan latar belakangnya: dia berasal dari keluarga menak. Gelar yang mendahului namanya berasal dari studinya sebagai sarjana ekonomi. Istrinya bernama Ina, seorang ibu rumah tangga. Mereka punya enam anak. Abdurrahman masih sering berkumpul dengan saudara-saudaranya dan masih berhubungan dengan ibu tirinya, Bi Tini, yang sudah menikah lagi.

Untuk mengatasi persoalan ekonomi keluarga yang setelah dia pensiun menjadi sangat mendesak, Abdurrahman menempuh bermacam-macam jalan: mencari kerja lagi, berusaha mengklaim haknya atas tanah warisan ibunya, dan meminjam uang pada ibu tirinya. Sementara itu, Abdurrahman pun dihadapkan pada masalah hubungan dengan keluarganya. Ina serong dengan suami baru ibu tirinya, Sukanda. Susana, anaknya yang kedua, menjadi pelacur. Aminah, anaknya yang lain, pulang lebih cepat dari studi di Belanda dalam keadaan gila dan hamil tanpa diketahui siapa bapak jabang bayinya. Semua itu berkelindan menjadi suatu kemelut hidup Abdurrahman.
Buku ini menunjukkan bahwa ekonomi, sosial, dan politik saling timbal balik menjadi sebab-akibat. Barang siapa yang memiliki kedudukan tinggi secara ekonomi dialah yang memiliki kuasa secara sosial dan politis. Misalnya, Sukanda mampu memerintah Ina untuk berhubungan seks dengannya karena dia memiliki uang yang dibutuhkannya. Karena kedudukan ekonominya tinggi, Sukanda mendobrak relasi sosialnya dengan Ina, istri anak tiri istrinya. Politik dan hubungan sosial adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Misalnya, Suhandar, sebagai saingan Abdurrahman dalam mencari kerja di suatu pabrik susu di Cibinong, mewajarkan dirinya memberi keterangan keliru tentang Abdurrahman –bahwa Abdurrahman wafat dalam kecelakaan yang menimpanya, sehingga dialah yang diterima di pabrik itu. Contoh lain: beberapa saudaranya menyesali Abdurrahman yang tidak mempekerjakan anak-anak mereka di tempatnya saat dia masih dinas di departemen, padahal pejabat-pejabat lain melakukannya.

Lewat kelindan antara ekonomi, sosial, dan politik itu, buku ini mengangkat persoalan etis. Persoalan-persoalan ini dijawab lewat tindakan-tindakan Abdurrahman. Saat masih dinas, Abdurrahman menilai bahwa memasukkan kenalan-kenalannya ke tempat yang berkaitan dengan departemennya atau mengizinkan keluarga untuk memakai fasilitas dinas adalah sesuatu yang salah. Setelah dia mengalami kemelut pasca-pensiun, penilaian itu goyah. Dalam upaya mengklaim haknya atas tanah warisan ibunya, pada awalnya Abdurrahman berniat untuk menyelesaikannya sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Lalu, dia menyadari bahwa kedudukannya dalam kasus ini kurang menguntungkan. Pada akhirnya dia mewajarkan penyogokan. Dulu, saat pertama kali mengetahui Susana melacur, Abdurrahman murka. Susana melacur karena dorongan ekonomi. Lama kemudian, setelah menghilang, Susana kembali dalam keadaan yang lebih mapan darinya. Abdurrahman menerima dukungan ekonomi Susana yang didapat dari hasil melacur. Apakah semua cara boleh dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi? Pada awalnya, tindakan-tindakan Abdurrahman menyiratkan jawaban ‘tidak’. Ada cara-cara yang tidak baik dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tapi, setelah mengalami kemelut pasca-pensiun, jawaban itu berubah jadi ‘ya’. Dalam keadaan yang mendesak semua cara boleh dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Meskipun demikian, agaknya Ramadhan KH masih condong pada jawaban ‘tidak’ sehingga untuk memberikan ‘rasa keadilan’ dia menghukum dulu Abdurrahman dengan cara mencelakakannya setelah Abdurrahman menyogok jaksa dan hakim, dan membuatnya melewatkan suatu kesempatan kerja karena kecelakaan itu.

Kemelut Hidup menunjukkan bahwa walaupun tekanan ekonomi mempengaruhi hubungan sosial dan politik, dan cenderung menihilkan nilai, seseorang harus berusaha bersikap normatif atau kalaupun memutuskan untuk tidak bersikap normatif, bersiap-siaplah untuk mendapatkan ‘hukuman’ sebagai penyeimbang.

Rabu, 19 Oktober 2016

Tak Putus Dirundung Malang - Sutan Takdir Alisjahbana



Judul Buku: Tak Putus Dirundung Malang
Penulis: Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit: Dian Rakyat
Tahun Terbit: 1995 (terbit pertama kali tahun 1929)

Tak Putus Dirundung Malang adalah serangkaian upaya sepasang kakak-beradik yatim piatu untuk bisa sintas di wilayah Bengkulu.

Sepasang kakak-beradik itu adalah Mansur dan Laminah. Saat mereka masih kecil, ibunya meninggal dalam suatu kebakaran. Saat umur mereka belasan, bapak mereka, Syahbuddin, meninggal karena sakit. Sejak itu mereka berpindah-pindah.

Deus Ex Machina banyak digunakan untuk menggerakkan plot. Hal ini terutama sangat terasa pada awal-awal buku. Pada akhir suatu bab diceritakan bahwa Syahbuddin mesti pergi sementara meninggalkan dua anaknya. Bab selanjutnya tahu-tahu Syahbuddin sudah sakit parah. Lompatan jauh antara peristiwa kepergian Syahbuddin dan kematian Syahbuddin dan penggunaan Deus Ex Machina menimbulkan efek dramatis bagi kesebatangkaraan Mansur dan Laminah. Setelah itu, mereka hanya berdua saja.

Setelah kematian Syahbuddin, plot lebih digerakkan oleh aksi-reaksi tokoh-tokohnya. Mansur dan Laminah pergi dari rumah bibinya, Jepisah, karena tindakan Madang. Mereka mengundurkan diri dari sebuah toko roti karena tindakan Sarmin.
Di antara kakak-beradik itu Laminah lebih sering tertimpa langsung kemalangan dan digambarkan lebih tidak tahan menghadapinya. Ketika dia mengasuh anak Jepisah, musibah yang menimpa sepupunya itu dianggap disebabkan olehnya. Ketika mereka bekerja di toko roti, dialah yang tidak bisa kerasan dengan lingkungan kerjanya. Kesusahan hati Mansur justru lebih sering disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan Laminah dan rasa tanggung jawabnya sebagai kakak walaupun menjelang akhir buku Mansur tertimpa langsung kemalangan juga –yang sebenarnya diadakan oleh Deus Ex Machina.

Reaksi mereka atas kemalangan menimbulkan suatu pola. Setelah Mansur meninggal, mereka selalu cenderung ingin langsung menjauhi sumber kemalangan mereka, terlepas dari dilakukan segera atau tidak. Tidak ada sedikit pun isyarat untuk bertahan di tempat dan mengusir atau setidaknya berkonfrontasi sumber kemalangan itu. Hal ini tampak dalam reaksi Mansur saat mengetahui Madang memarahi Laminah atau saat mengetahui kecemasan Laminah atas Sarmin. Reaksi macam ini bisa jadi disebabkan oleh keyakinan mereka atas kemampuan pertahanan dirinya belum sempat matang saat Syahbuddin, sosok yang secara tidak langsung mereka anggap bisa berkonfrontasi dengan kemalangan –misalnya, saat berhadapan dengan saudagar Cina, meninggal. Jadi, cara yang mereka tahu untuk mengatasi kemalangan adalah menjauhinya sama sekali. Kecenderungan inilah yang kemudian berdampak fatal bagi Laminah.

Di sisi lain, reaksi mereka atas kenyamanan pun menimbulkan pola yang sama: mereka cenderung menjauhi sumber kenyamanan itu. Mereka sempat ditawari oleh Datuk Halim dan Andung Seripah untuk tinggal di rumahnya. Begitu pun oleh Palik. Di toko roti pun mereka mendapatkan fasilitas yang nyaman sebagai pegawai (tempat tinggal dan makan). Mereka memutuskan untuk menolak bertahan di sana. Walaupun, misalnya, rumah Datuk Halim dekat dengan sumber kemalangan, rumah Madang, dan walaupun di toko roti itu Laminah pernah mengalami suatu kemalangan, tempat-tempat itu, lebih-lebih rumah Palik, adalah tempat yang aman bagi mereka. Hasrat untuk menjauhi sumber kemalangan justru berdampak buruk pada pertimbangan mereka atas tempat-tempat yang nyaman.

Latar cerita ini adalah suatu hal yang patut diperhatikan juga. Di sini digambarkan juga moda transportasi orang-orang di Bengkulu pada tahun ‘20an akhir. Mereka yang tinggal di pinggiran memanfaatkan arus sungai dan menggunakan sampan untuk bepergian. Hanya sesekali ada mobil yang bisa mengangkut banyak orang. Kalau tidak menggunakan dua moda transportasi itu, mereka jalan kaki. Sekedar informasi, Mansur dan Laminah berjalan kaki dari Ketahun ke Selolong yang jaraknya kira-kira 30 KM. Baru setelah itu, mereka naik mobil ke kota Bengkulu.

Latar yang juga bisa jadi menggambarkan keadaan zamannya adalah penggambaran orang Cina dan Jepang. Dalam buku ini tokoh-tokoh yang berbangsa ini (khususnya Cina) digambarkan sebagai seorang saudagar, bahkan di kota Bengkulu toko-toko yang didatangi Mansur dan Laminah untuk mencari kerja dimiliki oleh orang-orang Cina. Rata-rata mereka digambarkan bersikap ketus. Kekecualiannya adalah orang Cina pemilik toko roti yang pada akhirnya mempekerjakan mereka dan orang Jepang yang mempekerjakan Mansur. 

Sebagaimana judulnya, buku ini adalah kisah tentang dua remaja yang saking Tak Putus Dirundung Malang sampai-sampai saat menjumpai kenyamanan pun penilaian mereka atasnya menjadi sangat bias. Tak putus dirundung malang bisa menjeratmu dalam lingkaran setan paradigma ‘hidup adalah kemalangan belaka dan tak ada celah sedikit pun untuk keluar’.

Senin, 17 Oktober 2016

STA & Perjuangan Kebudayaan Indonesia (1908-1994) – Muhammad Fauzi



Judul Buku: STA & Perjuangan Kebudayaan Indonesia (1908-1994)
Penulis: Muhammad Fauzi
Penerbit: Dian Rakyat
Tahun Terbit: 1999

STA & Perjuangan Kebudayaan Indonesia (1908-1994) memotret sisi kehidupan Sutan Takdir Alisjahbana yang berkaitan dengan bahasa (khususnya pengembangan bahasa Indonesia), penerbitan, studi filsafatnya, pendidikan, politik, dan keluarga.

Sebelum isinya dibahas, ada baiknya sistematika penulisan buku ini dijelaskan secara singkat. Secara sepintas, buku ini disusun secara kronologis. Bab awal, “Masa Kecil”, berisi masa awal hidupnya sampai dia hendak melamar kerja di Balai Pustaka. Bab dua, “Lahirnya Pujangga Baru”, berisi peristiwa selama dia bekerja di Balai Pustaka dan aktif di Pujangga Baru. Kira-kira dari akhir tahun ‘20an sampai tahun 1941. Bab tiga, “Kalah dan Menang”, berisi peristiwa selama pendudukan Jepang di Indonesia sampai awal-awal tahun ‘50an. Bab empat, “Kebangkitan dan Perjuangan”, berisi peristiwa dari tahun ‘50an sampai pertengahan ‘60an. Bab lima dan enam, “Zaman Baru” dan “Membangun Rumah Masa Depan”, berisi peristiwa setelah 1965 sampai akhir ‘70an. Bab tujuh, bab terakhir, “Hidup Pun Berjalan Terus”, berisi peristiwa dari awal ‘80an sampai STA wafat. Meskipun demikian, di sela-sela laju yang kronologis itu seringkali pembahasan diloncatkan ke masa setelahnya atau sebelumnya. Hal ini membuat beberapa pembahasan yang meloncat tapi waktunya tidak diterangkan agak sulit diketahui kejelasannya. Inilah juga yang membuat beberapa perubahan pandangan atau tindakan STA sulit dinilai. Misalnya, agak sulit untuk menjawab pertanyaan “apakah sikap anti-bahasa-daerah untuk digunakan dalam bahasa Indonesia sudah ada dalam pandangan STA sejak awal menggeluti bahasa Indonesia atau tidak?”

Pendidikan
Sebagaimana lazimnya anak-anak orang atas Hindia Belanda pada awal-awal abad 20, STA menjalani pendidikan formal Belanda. Dia masuk HIS, Kweekschool (sekolah guru), lalu Hogere Kweekschool. Keputusannya untuk melanjutkan ke sekolah guru dipengaruhi oleh sosok ayahnya yang kepala sekolah. Selulusnya dari sana STA sempat bekerja sebagai guru, sebelum akhirnya merantau ke Jawa untuk bekerja di Balai Pustaka. Selama bekerja di Balai Pustaka STA belajar juga di Recht Hogeschool. Pendidikan formalnya baru dilanjutkan lagi saat dia menuliskan tesis. Dia mengerjakannya sebagai mahasiswa filsafat UI. Tapi karena promotornya yang seorang Belanda memutuskan untuk pulang ke Belanda karena kasus Irian Barat, STA pindah ke Jerman, ke Universitas Bonn, untuk merampungkan tesisnya. Lalu, dia pindah lagi ke Stanford, ke Center For Advanced Studies in Behavioral Sciences, dengan beasiswa Rockeffeler Foundation lalu Asia Foundation.

STA pun banyak berkiprah sebagai pengajar di institusi-institusi pendidikan formal. Dia pertama kali mengajar di sekolah perhubungan Palembang setelah lulus dari Hogere Kweekschool. Pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia dia bersama Perkoempoelan Memadjukan Ilmoe dan Keboedajaan mendirikan SMA Memadjukan Ilmoe dan Keboedajaan. Perkumpulan itu pun kemudian mendirikan universitas. Inilah cikal bakal Universitas Nasional. Pada tahun ‘60an, saat tinggal di Malaysia, STA sempat menjadi guru besar Melayu Studies di Universitas Malaya. Pada tahun ‘70an STA mendirikan balai seni di Toyabungkah, Bali. 

STA berupaya mengembangkan institusi pendidikan formal tersebut. SMA Memadjoekan Ilmoe dan Keboedajaan dianggap ilegal oleh Belanda yang waktu itu hendak menduduki kembali Indonesia. STA siap ditahan atas hal ini. Upaya paling besar dikerahkannya untuk Universitas Nasional. Pada masa awal pendiriannya dan tahun ‘60an universitas ini terkena banyak masalah agraria. Dengan bantuan ekonomi dan politis banyak pihak STA memperjuangkannya. Di Unas juga kemudian STA mendirikan banyak pusat kajian, dari kajian Islam, kajian perempuan, sampai kajian futurologi. Di Melayu Studies Universitas Malaya pun dia melakukan pengembangan yang kontroversial. Dia memasukan mata-mata kuliah yang dianggap tidak relevan dengan Melayu Studies oleh banyak dosen di sana, seperti memasukan sastra Eropa ke dalam kurikulum. Ketika memiliki suatu jabatan dalam institusi pendidikan, STA mengembangkan institusi tersebut berdasarkan keyakinannya.

Bahasa Indonesia
Sejak tahun ‘20an akhir sampai tahun ‘80an STA menggeluti pengembangan bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda mempengaruhi ketertarikannya pada bahasa Indonesia. Pada masa dia kerja di Balai Pustaka dia menulis tentang bahasa Indonesia di majalah Pandji Poestaka. Pada tahun ‘50an dia menuliskannya di majalah Pembina Bahasa Indonesia. Karya tulisnya tentang bahasa Indonesia yang dianggap karyatama adalah Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Kemesraannya dengan bahasa Indonesia terjadi pada masa dia dipekerjakan di Komisi Bahasa Indonesia yang dibentuk Jepang. Di sana dia bertugas menyusun istilah-istilah baku bahasa Indonesia. Dalam pekerjaan ini, dia berdiri di kubu yang ingin mencondongkan bahasa Indonesia ke bahasa Barat, bertentangan dengan kubu yang condong ke Islam dan kubu yang condong ke Jawa Kuno. Seiring waktu, STA menjadi orang yang tidak mendukung penggunaan bahasa daerah untuk media berbahasa Indonesia. Meskipun demikian, kemudian STA dianggap sebagai sosok yang men-jawaisasi dan men-sansekertaisasi bahasa Indonesia. Sementara itu, STA berpandangan bahwa bahasa Melayu mesti dicondongkan ke bahasa Indonesia. Hal ini tampak dalam pengajarannya selama menjadi dosen di departemen Malay Studies Universitas Malaya, dan dalam usulannya tentang penutupan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan pendirian satu lembaga bahasa untuk menaungi bahasa yang dipakai di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Selain itu, berusaha mengembangkan bahasa Indonesia lewat penerjemahan. Hal ini diwujudkannya dengan pendirian Pusat Penerjemahan Nasional di Universitas Nasional. Tapi, STA merasa Indonesia lambat dalam penerjemahan. Setelah proyek kamus Malaysia-Indonesia-Inggrisnya terbengkalai pada tahun ‘80an, dia perlahan meninggalkan kajian bahasa.

Filsafat
Selama hidupnya STA mengalami perubahan falsafah hidup. Keluarganya memiliki latar belakang Islam. Pada masa mudanya STA sempat menekuni teosofi, bahkan pernah menerjemahkan karya teosofi, The Song of Life. Kecenderungan ini berakhir saat istrinya yang pertama wafat. Saat dalam tahanan Jepang, dia menekuni pemikiran Immanuel Kant. Pada masa pendudukan Jepang dia juga pernah mengkaji falsafah Jepang. Meskipun demikian, pendiriannya jatuh pada filsafat Eropa. Semangat Renaissance adalah patokannya. Pada tahun ‘70an perlahan dia mencondongkan dirinya pada Islam. Perubahan haluannya ini agaknya dipengaruhi juga oleh beberapa peristiwa. Misalnya, kekecewaannya atas pendapat Karl Jasper tentang hubungan Eropa dan Amerika, kekecewaannya atas jawaban Kaarl Barth, seorang pemimpin Protestan yang terkenal, saat ditanya tentang agama dan toleransi, penemuan-penemuannya tentang filsafat Eropa selama penelitiannya (misalnya, kerancuan pengertian personality dan character dalam psikologi dan sosiologi Belanda), kemerosotan Eropa setelah Perang Dunia II, dan –barangkali inilah titik baliknya—kecelakaan pesawat yang dialaminya saat hendak pergi ke Belagio dari Roma (selama masa perawatannya STA meminta dikirimi buku-buku filsafat Islam).

Tidak sedikit tulisan filsafat yang dihasilkan STA, baik untuk keperluan studi maupun untuk keperluan kongres filsafat. Tahun ‘50an dia menulis makalah “Kedudukan Kelakuan Manusia di Tengah Alam Semesta” untuk kongres filsafat di Venesia. Pemikiran dalam makalah ini kemudian dikembangkan menjadi tesisnya, “Values as Integrating Force in Personality, Society and Culture”. Pada masa perhatiannya pada Islam mulai membesar dia menulis artikel “Manusia Modern dan Agamanya”. Dia juga pernah membawakan makalah “The Future of Philosophy” pada konferensi filsafat di Bulgaria.

Karena pemikiran-pemikirannya, STA banyak beradu pendapat. Yang paling terkenal adalah pikirannya tentang arah yang mesti ditempuh Indonesia kalau ingin maju, yang didokumentasikan oleh Achdiat Kartamihardja dalam Polemik Kebudayaan. Pada suatu kongres internasional tentang pembelajaran bahasa bagi anak pun, dia sempat berdebat karena mendukung pengajaran bahasa asing untuk anak sejak dini. Dalam pengembangan bahasa Indonesia pun dia berdebat dengan kalangan yang condong ke bahasa Jawa Kuno dan kalangan yang condong ke bahasa Arab, karena dia mendukung pencondongan bahasa Indonesia ke bahasa Eropa. Perdebatan paling personal yang pernah ditempuhnya adalah perdebatan dengan bapaknya tentang filsuf abad ke-19 dan keruntuhan agama-agama besar. Dalam perdebatan itu bapaknya sampai menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah bisa bertemu lagi di dunia maupun di kehidupan kelak.
Penerbitan
STA banyak makan asam-garam ranah penerbitan. Dari penerbitan majalah atau media sejenisnya sampai perusahaan penerbitan dan percetakan. 

Dalam penerbitan majalah, dia terlibat dalam penerbitan majalah beragam bidang, seperti pergerakan pemuda (Semangat Moeda), pendidikan (‘Memadjukan Ilmu, Teknik, dan Hidup’, Ilmu dan Budaya, Pembina Bahasa Indonesia), sastra dan budaya (Poejangga Baroe, Pembangoenan, Konfrontasi). Majalah Semangat Moeda terbit pada masa STA terlibat dengan gerakan pemuda di Palembang tahun 1929. Majalah-majalah pendidikan STA terbit dalam kaitan keterlibatannya dengan PMIK (Perkoempolan Memadjukan Ilmoe dan Keboedadjaan) dan Universitas Nasional. Majalah sastra dan budayanya terbit karena suatu relasi yang lebih rumit dari relasi untuk dua jenis majalah lainnya. 

Dalam urusan perusahaan penerbitan, STA mendirikan dua perusahaan. Yang pertama adalah Poestaka Rakjat yang kemudian pada tahun ‘60an diubah namanya menjadi Dian Rakjat. Perusahaan penerbitan ini didirikan pada masa pendudukan Jepang. Beragam topik diterbitkannya, dari ekonomi, filsafat, sastra, dst.. Pada tahun ‘50an perusahaan ini sempat disita pemerintah. Tapi, kemudian relasi keluarga besar STA dengan Soekarno memulihkan kepemilikan tanah itu dan sekaligus perusahaannya. Memang, pengelolaan Dian Rakyat banyak juga dipegang oleh anak atau keponakan STA. Pada masa-masa penyitaan ini STA yang saat itu tinggal di Malaysia mendirikan perusahaan penerbit Zaman Baru di sana. Perusahaan ini menerbitkan karya sastra dan karya ilmiah.

Politik
Semasa mudanya STA terlibat dalam organisasi pemuda. Di Muaraenim dia terilhami sepupunya untuk terlibat dalam organisasi. Di sana dia mendirikan Jong Sumatra Bond cabang Muaraenim dan menjadi ketuanya. Dia sempat diperingatkan oleh direktur sekolah karena menulis tentang A.J. Patty, tokoh nasionalis pendiri Sarekat Ambon. Pendirian Jong Sumatra Bond pun dikecam oleh direktur sekolah. STA belum siap dengan reaksi-reaksi demikian atas tindakan politisnya. Dia menangis. 

Saat sudah tinggal di Jakarta dan bekerja di Balai Pustaka pun STA masih terlibat dalam politik. Dia sering mendatangi aktivis Gedung Pergoeroean Rakjat dan Indonesien Club. Agaknya relasi inilah yang membuatnya condong ke PSI. Gedung Pergoeroean adalah basis kelompok Soedjatmoko.

Pada masa pendudukan Jepang STA diundang sebagai seorang intelektual oleh Sedenbu. Dia pun terlibat dalam Komisi Bahasa Indonesia yang dibentuk Jepang. Seiring waktu dia kecewa juga pada Jepang dan kecewa karena banyak tokoh pergerakan mendukung Jepang. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari rapat-rapat Sedenbu. Tahun 1944 STA diminta oleh kalangan muda untuk menuliskan manifesto sebagai panduan pergerakan. Manifesto inilah yang membuat dia ditangkap Jepang. Pada masa inilah dia mengaku ingin menjauhkan diri dari politik dan lebih mendekatkan diri pada kegiatan keilmuan.

Meskipun demikian, sampai tahun ‘50an dia masih aktif dalam politik. Pada masa agresi Belanda dia dituduh oleh Menteri Ali Sastroamidjojo mendukung Belanda. Pertentangan ini bahkan masih berlanjut sampai dia pulang dari kongres filsafat di Belanda. Selain itu, dia menjadi perwakilan PSI pada Konstituante. Dia sempat berseteru dengan Natsir tentang pandangan kenegaraan. STA mempertahankan demokrasi sekuler, sedangkan Natsir mempertahankan Islam. Dia juga terlibat dalam PRRI dan Permesta. Inilah yang membuatnya menjadi tahanan kota.

Sepulang dari Malaysia pada tahun 1968 barulah STA mewujudkan niatnya untuk menjauhi politik praktis dan lebih mendekatkan diri pada kegiatan keilmuan. Meskipun demikian, bisa dibilang pada masa ini dia menikmati keuntungan dari relasi-relasi politisnya. Dia sempat diminta oleh Ali Sadikin untuk menjadi anggota Akademi Jakarta. Dalam penyelesaian sengketa Universitas Nasional, STA banyak meminta bantuan Ali Sadikin. Relasinya dengan pihak-pihak luar negeri pun turut melancarkan kerjanya. Asia Foundation banyak membantu logistik balai seni Toyabungkah.

Keluarga
STA tertarik pada perempuan yang sesuai dengan kapasitas intelektualnya. Setidaknya itulah yang dikesankan dari hubungan dia dan dua istrinya yang belakangan, Rara Soegiarti dan Margret Axer. Dalam buku ini tidak banyak informasi tentang hubungan dia dan Rohani Daha, istri pertamanya. Meskipun demikian, tidak kalah terpukulnya dia saat Daha meninggal. Puisi-puisi dalam kumpulan Tebaran Mega didorong oleh perasaannya terhadap Daha. Soegiarti dan Margret adalah perempuan cendekiawan. Soegiarti aktif dalam lingkaran Poejangga Baroe, sementara Margret adalah seorang doktor bahasa dan sastra Jerman dan redaktur kebudayaan suatu surat kabar di Jerman.

Kiprah STA dalam beragam bidang berpengaruh juga pada karir anak-anaknya. Perusahaan percetakan yang didirikannya kemudian dikelola oleh anaknya, Sofyan. STA juga banyak mencurahkan tenaga membantu Samiati untuk mencari jalan agar bisa sekolah lagi di luar negeri. Samiati sempat menjadi asisten John M. Echols. 

STA adalah seorang ayah yang liberal. Dia membebaskan anaknya untuk menjalani hidup dengan cara mereka. Untuk mengimbangi keliberalan itu dia tidak segan untuk berdebat dengan mereka. Cara bersikap liberal ini dipengaruhi juga oleh caranya bersikap dalam banyak bidang, seperti yang juga ditunjukkannya dalam perdebatannya tentang bahasa, politik, filsafat, dst..

Penutup
Buku ini menunjukkan bahwa Sutan Takdir Alisjahbana adalah seorang pelajar sepanjang hayat. Bahasa Indonesa adalah proyek kajiannya yang pertama-tama. Ini dipengaruhi juga oleh keadaan sosialnya (pendudukan Jepang dan semangat kebangsaan Indonesia). Sementara itu, sedikit demi sedikit filsafat menarik minatnya. Pada akhirnya dia sepenuhnya menenggelamkan diri dalam kajian filsafat. Wajar saja kecenderungan ini bisa berakhir demikian. Filsafat cenderung lebih mudah untuk menjadi sesuatu yang personal ketimbang ilmu bahasa, walaupun motif kajian filsafat STA lebih dari sekadar perkara personal.

Kegandrungannya untuk menjadi pelajar membuat Sutan Takdir Alisjahbana meyakini bahwa jalan untuk memajukan manusia adalah pendidikan. Inilah dasar pemikiran di balik keterlibatannya dalam institusi-institus pendidikan formal. Dalam pengelolaan institusi ini dia berpijak pada falsafahnya, walaupun beberapa penerapan falsafahnya ini dianggap kurang tepat di beberapa institusi. Selain melalui institusi pendidikan formal, STA mewujudkan visinya ini lewat penerbitan. Karya sastranya –hal yang kurang dalam digali dalam buku ini— pun diusahakannya untuk menjadi pengejawantahan falsafahnya. Hal ini makin eksplisit sejak Layar Terkembang.

Falsafah Sutan Takdir Alisjahbana Eropa-sentris. Hal ini tampak pada pemikirannya tentang bahasa Indonesia, arah yang harus dituju bangsa Indonesia, bahkan oleh bangsa serumpun. Baru pada usia tuanya dia mulai menunjukkan perubahan haluan ke Islam, walaupun bersamaan dengan itu ada juga kecenderungan-kecenderungan ‘satu umat manusia satu negara dunia’ dalam gagasannya.

Buku ini berisi peristiwa-peristiwa yang menunjukkan bahwa Sutan Takdir Alisjahbana ‘tidak tahan’ menghadapi pergolakan politik di sekitarnya. Barangkali inilah yang membuat pembahasan tentang kiprah politik praktis STA pasca-kemerdekaan Indonesia –misalnya, kiprahnya di PSI— hanya dibahas sedikit, padahal kiprahnya pra-kemerdekaan lumayan banyak dibahas. Barangkali ‘ketidaktahanan’ inilah yang pada akhirnya membuatnya memilih untuk meninggalkan politik praktis dan menekuni kegiatan ilmiah, sebagaimana yang pernah dinyatakannya. Meskipun demikian, ketika dia meninggalkan ranah politik praktis, dia tetap memanfaatkan relasi politiknya untuk mendukung usaha-usahanya dalam kegiatan ilmiah.

Semua kiprah Sutan Takdir Alisjahbana di ranah publik berkaitan erat juga dengan hidupnya di ranah privat. Hal ini tampak, misalnya, dalam selera perempuannya, cara dia mendidik anak, dan karir anak-anaknya.

Berkali-kali dalam buku ini dikesankan bahwa Sutan Takdir Alisjahbana adalah seorang yang optimis. Meskipun demikian, pesimismenya tidak bisa tidak terasa di sana-sini. Di balik keputusannya untuk berhenti mengkaji bahasa Indonesia terdapat keputusasaan tentang rendahnya kepedulian orang-orang atas pengembangan bahasa Indonesia. Di balik perubahan kecenderungan filsafatnya ke Islam ada kekecewaan atas keruntuhan Eropa pasca-Perang-Dunia. Pengunduran dirinya dari kancah politik praktis Indonesia pun menyiratkan pesimisme.

STA & Perjuangan Kebudayaan Indonesia (1908-1994) adalah biografi tentang seseorang yang berusaha untuk tetap optimis dalam menjunjung pendidikan sebagai sarana untuk memajukan manusia, walaupun di baliknya pesimisme tetap membayangi saat dia dihadapkan pada persoalan-persoalan yang lebih praktis.