Rabu, 30 November 2016

Mereka Berdua - Noorca M. Massardi



Judul Buku: Mereka Berdua
Penulis: Noorca M. Massardi
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 1982

Mereka Berdua berisi perang dingin suami-istri karena kehadiran orang ketiga, desakan kakak terhadap adiknya supaya membantu rencananya, endap-endap sepasang lesbian karena khawatir akan penghakiman orang-orang, seteru antara sindikat buruh dan direktur suatu surat kabar, dan pengaruh peristiwa Gestapu yang dilatari kota Jakarta dan Paris antara tahun ‘60an sampai ‘80an.

Suami-istri itu adalah Bastaman dan Arini. Mereka pisah rumah setelah Arini mendapati seorang perempuan beres mandi di kamar Arini dan Bastaman tidak lama setelah Arini menyusul pulang ke Indonesia dari Perancis. Perempuan itu adalah Nila, murid Bastaman di suatu sekolah jurnalistik, yang sangat karib dengannya.

Perpisahan Bastaman dan Arini mempengaruhi anaknya, Alia, secara sosial dan psikologis. Karena bertahun-tahun hanya tinggal berdua, sosok Bastaman menjadi terlalu kuat bagi Alia sehingga gambaran lelaki yang didambakannya. Di sisi lain, Alia tidak dapat memungkiri bahwa Bastaman telah menyakiti ibunya. Kelindan ini kemudian membuat Alia memutuskan untuk mencintai perempuan, Rita, temannya di sanggar balet. Mereka berhubungan diam-diam walaupun banyak orang di sekitarnya menyadarinya.
Nila adalah adik yang didesak kakaknya untuk membantu rencananya. Farhad Mahatir, kakaknya, melibatkannya dalam usaha untuk menjatuhkan Bastaman dari kedudukannya sebagai direktur surat kabar Berita Dunia. Motifnya adalah dendam karena malah Bastamanlah yang dipilih oleh karyawan surat kabar Kosmos dan direkturnya, Adhi Sukma, untuk memimpin surat kabar penerus Kosmos, Berita Dunia, setelah diberedel pasca-Malari, padahal Farhad Mahatir sudah lama mengincar jabatan itu, sedangkan Bastaman hanyalah koresponden paruh waktu luar negerinya.

Pegawai Berita Dunia mogok karena Bastaman membuat kebijakan yang menyebabkan banyak pemecatan sebagai konsekuensi dari pemajuan teknologi produksinya. Keadaan ini dipergawat oleh intervensi dari suatu aparat pemerintah yang tidak disebutkan secara tersurat –walaupun yang disebutkan hanya Laksusda, kemungkinan besar bisa juga Kopkamtib. Dalam kemelut itu, Farhad Mahatir yang menjabat sebagai wakil direktur berakting supaya dipercaya Bastaman untuk menjadi mata-mata di kalangan sindikat buruh surat kabar tersebut. Setelah dipercaya sepenuhnya oleh sindikat buruh, Farhad bukannya meredam tuntutan, melainkan malah memukul telak Bastaman.
Alur dramatik buku ini secara apik dan tradisional. Pada awalnya persoalan-persoalan yang dialami Bastaman dikesankan sebagai sesuatu yang terpisah satu sama lain, antara yang pribadi dan umum. Lalu, pada satu ketika semua persoalan itu mencapai intensitas tertinggi bersamaan. Bastian memergoki Alia sedang bersetubuh dengan Rita, padahal di kantor dia baru terpukul telak oleh tuntutan sindikat buruh, dia memergoki seorang pejabat sedang bersetubuh homosekual di suatu hotel karena suatu jebakan Nila, dan hubungannya dengan Arini sedang memanas karena beberapa saat sebelumnya Arini dan Nila bertemu. Klimaks buku ini adalah saat Bastaman berada di titik paling terpuruk. Lalu, satu per satu persoalan itu diselesaikan.

Buku ini menunjukkan betapa urusan pribadi dan umum berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Farhad Mahatir pertama-tama menerobos pertahanan Bastaman melalui urusan rumah tangganya. Dia menyelundupkan Nila di kehidupan pribadi Bastaman. Lalu, dia memanfaatkan aksi mogok pegawai Berita Dunia untuk menyerang Bastaman secara umum. Rencana ini sendiri dilatarbelakangi oleh urusan pribadi dan umum Farhad. Dia punya hubungan erat dengan salah seorang petinggi CC PKI sebelum faksi Aidit berkuasa dan aktif secara awanama di surat-surat kabar PKI, walaupun tidak terdaftar secara resmi dalam partai. Saat akhirnya kembali lagi ke Indonesia, dia bekerja di rubrik luar negeri Kosmos dan secara ekstrim membela kebijakan-kebijakan Amerika sebagai selubung atas sikapnya terhadap Rusia. Dia memburu jabatan yang kemudian malah diduduki Bastaman. Sementara itu, sebagaimana telah disebutkan, urusan pribadi dan umum Bastaman saling mempengaruhi. Sedikit tambahan tentang kehidupan Bastaman sebelum menjabat jadi direktur Berita Dunia. Pada tahun enam puluhan pekerjaannya sebagai wartawan mengharuskan dia untuk sering bepergian sehingga sering jauh dari keluarga. Hal inilah juga yang pertama-tama memicu rasa cemburu Arini, khususnya saat Bastaman mesti pulang ke Indonesia duluan sementara Arini mesti di Perancis dulu untuk menyelesaikan sekolah filmnya.

Pengantagonisan orang yang punya kaitan dengan PKI digunakan untuk memberikan fokus pada kalangan ini. Pemfokusan ini diperkuat lagi oleh penempatan hal-hal yang berkaitan dengan PKI pada peristiwa-peristiwa yang impresif. Isi seluruhnya bab pembuka adalah Gestapu dan penguakan jati diri Farhad Mahatir yang berkaitan dengan PKI dipaparkan pada peristiwa yang menunjukkan kejutan bagi tikaian buku ini. Sedikit tapi sangat menonjol. Dalam kaitannya dengan Bastaman, Farhad memang antagonis. Tapi, dalam kaitannya dengan soal yang lebih luas, dengan kata lain, peristiwa-peristiwa bersejarah tentang PKI, Farhad adalah orang yang terpinggirkan. Dia menjadi tampak sangat antagonis dalam hubungan dengan Bastaman karena dia begitu bernafsu untuk tidak lagi menjadi orang yang terpinggirkan. Tapi, pada akhirnya, usahanya gagal. Dia tetap terpinggirkan, bahkan terbuang.

Persoalan lain yang vital tapi bukan menjadi persoalan utama dalam buku ini adalah homoseksual atau, dalam istilah dalam buku ini, pederastie. Alia, Rita, pejabat yang dipergoki Bastaman, dan orang-orang di klab malam yang secara sembarang didatangi Bastaman. Pada semuanya reaksi tokoh-tokoh lain sama. Menganggap tindakan mereka sebagai suatu aib. Di antara mereka hanya Alia saja yang musababnya digali, sementara yang lainnya hanya dibahas permukaannya saja –pada adegan di klab seorang bartender menyebutkan ciri-ciri dandanan orang-orang pederastie. Meskipun demikian, penggalian itu hanya sampai pada musababnya. Setelah itu, tidak ada tindakan lagi. Alia keburu kabur ke rumah neneknya. Persoalan homoseksual ini dibiarkan mengambang. Pengangkatan persoalan ini bisa dibilang baru suatu penunjukan masalah saja.

Mereka Berdua adalah suatu cerita beralur dramatik tradisional apik yang berniat untuk merenungkan kembali kedudukan orang-orang yang berkaitan dengan PKI di balik kelindan antara kemelut rumah tangga dan kemelut suatu surat kabar, dan diselipi soal homoseksual.

Senin, 28 November 2016

Langit Dan Bumi Sahabat Kami - Nh Dini



Judul Buku: Langit dan Bumi Sahabat Kami
Penulis: Nh Dini
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 1990 (pertama kali terbit tahun 1979)

Langit dan Bumi Sahabat Kami berisi kebangkitan naluri artistik dan kesadaran tentang hubungan laki-perempuan dalam diri seorang anak perempuan, kesulitan ekonomi, dan lika-liku gerakan bawah tanah dan pengaruhnya terhadap orang-orang terdekat mereka pada masa pendudukan Sekutu di Semarang.

Buku ini membahas musabab kebangkitan naluri artistik dan fungsi ekspresi artistik dengan menggunakan Dini, penceritanya, sebagai contoh kasus. Pada masa pendudukan Sekutu Dini tidak bisa berhubungan dengan orang-orang yang dekat secara emosional dengannya: Mariam, kakaknya, dan Edi, sepupunya. Hubungannya dengan anak-anak tetangga pun hanya selintas saja. Dini sendiri bukan anak yang suka berbicara walaupun tidak berarti tidak punya pendapat tentang apa-apa yang terjadi di sekitarnya. Dia sudah bisa membaca. Bapaknya mengajarinya membaca dengan buku Rabindranath Tagore. Dia juga sering diajarkan lagu-lagu yang lazim dinyanyikan anak-anak pada masa itu. Dalam keadaan semacam itulah tumbuh perlahan nalurinya untuk mengekspresikan perasaannya, terutama kerinduannya pada dua orang tadi. Pada awalnya dia hanya mengubah lirik-lirik lagu yang diketahuinya dengan hal-hal yang mengekspresikan kerinduannya itu. Lama-lama dia menuliskannya. Ekspresinya itu membuatnya bisa bertahan dalam kesepian itu. Di sini naluri menulis muncul dari kesepian dan pertama-tama digunakan untuk melipurnya.

Di tengah keadaan itu Dini mendapatkan kesadaran tentang hubungan antara laki-perempuan. Yu Kin melahirkan. Dia mengeluhkan keadaan fisik bayinya pada Yu Saijem, mantu pembantu keluarga Dini. Yu Saijem berkata soal “suami-istri campur” saat menjelaskan persoalan Yu Kin. Dini, seorang anak yang rasa ingin tahunya besar, yang menjadi saksi percakapan itu kemudian bertanya lebih lanjut pada Yu Saijem. Itulah pertama kalinya dia mendapatkan penjelasan yang sangat gamblang tentang persetubuhan laki-perempuan. Lebih jauh lagi, Dini kemudian mengetahui pelacuran lewat Yu Saijem. Kang Marjo, suami Yu Saijem, ditangkap tentara Sekutu. Keadaan ekonomi sedang sulit. Pada masa itu Dini sering melihat Yu Saijem jalan dengan lelaki yang berbeda-beda. Rasa ingin tahu itu mengantarkannya pada pengetahuan tentang pelacuran. Dalam menerima dua pengetahuan ini, Dini bersikap reseptif, atau lebih tepatnya polos. Meskipun demikian, kecenderungannya untuk merenung justru membuat dia tidak bersikap menghakimi atas persoalan semacam itu. Dia menilainya dengan mempertimbangkan kebutuhan ekonomi dan kebutuhan seksual seseorang.
Pada masa pendudukan Sekutu di Semarang barang-barang kebutuhan serba sulit karena jalan-jalan ke luar kota diblokade. Sumber-sumber air pun kering atau kotor. Bahan makanan yang beredar di pasaran berkualitas buruk karena terlalu lama ditimbun. Harga-harga mahal di pasaran umum, apalagi di pasar gelap. Dampaknya, apa pun yang bisa dijadikan bahan makanan gratis diperebutkan. Tumbuhan dan pohon di tanah kosong di tangsi polisi dekat rumah Dini dihisap habis oleh orang-orang. Pada masa-masa ini kemampuan masak ibu Dini menyelamatkan perut keluarga. Bahan-bahan yang kurang enak diolah jadi bisa diterima lidah. Segala sumber daya diusahakan diamankan, terutama dari tentara Sekutu yang suka seenaknya mengambil barang-barang di rumah warga. Keluarga Dini menyembunyikan ayam agar telurnya bisa dijual, ditukar, atau dimakan sendiri. Barang-barang dijual supaya dapat modal untuk membeli kebutuhan. Sistem barter pun digunakan lagi. Sering keluarga Dini bolak-balik ke Pasar Johor untuk membarter barang dengan apa-apa yang dijajakan di sana. Pada masa ini Dini mendapatkan pelajaran etika tentang kepemilikan, berbagi, dan sikap politis. Palang Merah Belanda memberikan bantuan pada warga. Bapak Dini menolak menerimanya karena tidak mau bekerja sama dengan kubu Sekutu, sedangkan ibunya justru menerimanya. Mereka berdebat. Pembelaan ibu Dini adalah barang-barang ini bisa diberikan pada kenalan-kenalan yang membutuhkan. Saat itu keluarga mereka bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya. Tidak apa-apa melakukan tindakan itu kalau demi menolong orang lain, apalagi keluarga mereka sudah bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya, sebagaimana pernah dilakukan saat mereka memasang pompa air.

Bapak Dini terlibat dalam gerakan bawah tanah. Dini sering mendapati dia berunding sembunyi-sembunyi dengan orang-orang tidak dikenal di kebun sekitar rumahnya pada malam hari. Pak Sarosa, paman Dini, masuk ke Semarang dengan menyamar dan melalui jalan-jalan tikus. Anak-anak dilarang berbicara tentang kehadirannya di rumah pada orang lain. Saat situasi memanas, bapak Dini, Kang Marjo (suami Yu Saijem), dan beberapa orang lelaki yang tinggal di rumah mereka ditangkap Sekutu. Penangkapan ini kemudian berdampak buruk pada kesehatan bapak Dini secara umum. Sementara itu, ada warga yang mendadak menjadi kaya tanpa dijelas sebabnya. Menjelang pendudukan berakhir rumah warga itu dibakar. Mereka inilah yang dianggap mata-mata yang terlibat dalam penangkapan bapak Dini dan yang lainnya. Teguh, kakak Dini, menyukuri-nyukuri nasib sial yang menimpa mereka. Pada saat inilah Dini mendapatkan etika untuk bersikap adil. Bapaknya menegur Teguh karena sikapnya. Situasi perang yang mendesak orang untuk menjadi kolaborator musuh atau tetap memberontak merembetkan rasa permusuhan atau rasa persahabatan, bergantung pada kepentingannya.

Langit dan Bumi Sahabat Kami mengajukan persoalan etika ekonomi, politik, dan seks dalam situasi perang, dan menyatakan pendapat tentang suatu faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan akan sastra.

Kamis, 24 November 2016

Perjalanan Penganten - Ajip Rosidi



Judul Buku: Perjalanan Penganten
Penulis: Ajip Rosidi
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1998 (terbit pertama kali tahun 1958)

Perjalanan Penganten adalah serangkaian kejadian sehari-hari di Majalengka dan sekilas di Jakarta pada tahun ‘50an tentang upacara-upacara tradisional, intrik politik, hasrat untuk hidup yang lebih tenang, dan pengamatan atas paradigma warga setempat yang dituturkan oleh seorang penulis muda yang namanya tidak disebutkan.

Upacara-upacara tradisional itu adalah pernikahan, tujuh bulanan kehamilan, empat puluh harian (potong rambut anak dan penguburan tali pusar), dan mudun lemah. Si Aku (penulis muda itu) banyak mengisyaratkan sikap kurang sepakat dengan upacara-upacara tersebut. Pada saat pernikahan, misalnya, dia menyayangkan telor-telor yang pecah karena mesti diinjak sebagai bagian dari upacara pernikahan. Dia pun sebal saat harus mengulang keterangan-keterangan yang sudah disebutkannya di kantor agama saat akad nikah karena kebiasaannya begitu. Selama pernikahan itu pun dia tak henti-hentinya berusaha menahan tawa karena riasan dirinya dan istrinya. Dia sebenarnya ingin dandan seperti sehari-hari saja saat pernikahannya. Pada suatu rangkaian tujuh bulanan kehamilan istrinya dia diharuskan untuk melemparkan sebuah buyung sebagai lambang seberapa jauh anaknya kelak akan merantau. Karena dia melaksanakan itu demi ibunya, dia hanya memecahkan buyung itu di perempatan dekat rumahnya. Karena itu, dia dinasihati sanak saudaranya. Pada empat puluh harian anaknya dia sebenarnya keberatan kalau rambut anaknya dicukur karena menurutnya rambutnya bagus dan dia tak mau menjadi pengubur bali anaknya karena mesti didandani seperti perempuan sebagai bagian dari kebiasaan. Sementara itu, saat mudun lemah, upacara untuk menduga bidang si anak kelak dengan cara membiarkan si anak memilih beberapa benda yang telah disediakan, dia diam memperhatikan. Si Aku menjalani upacara-upacara itu karena kebiasaan dan rasa hormat pada keluarga. Tidak tampak kesan bahwa dia menganggap upacara-upacara itu sebagai sesuatu yang berarti.

Intrik politik dalam buku ini berkaitan dengan bapak si Aku. Dia adalah seorang pensiunan guru yang menjabat sebagai salah satu pengurus koperasi di daerah tersebut. Dia sempat menjadi juru kampanye salah satu partai politik pada masa kampanye saat itu. Dia menduduki jabatan penting. Hal inilah yang kemudian memunculkan banyak lawan politik. Pada masa-masa kepulangan si Aku dia terlilit hutang pada koperasi dan dituduh korupsi. Pada si Aku dia mengaku hutangnya berbon, dengan kata lain sah. Hutang itu digunakan untuk membangun salah satu rumahnya. Tapi, kemudian mengobrol dengan seorang kenalan, si Aku baru tahu bahwa bapaknya ditumbalkan oleh orang-orang tertentu yang mengambil keuntungan saat bapaknya butuh uang untuk membangun rumah. Keadaan-keadaan politis semacam ini adalah salah satu hal yang membuat si Aku makin berhasrat untuk menetap kembali di Majalengka. Dia merasa bertanggung jawab untuk mengatasi persoalan-persoalan yang ada di sana, walaupun pada bab-bab yang kemudian tidak sedikit pun diceritakan keterlibatannya dalam hal-hal seperti ini.

Hasrat si Aku untuk hidup yang lebih tenang muncul karena membandingkan keadaannya di Jakarta dan keadaan di Majalengka. Meskipun punya pekerjaan di Balai Pustaka, dia merasa Jakarta terlalu sumpek. Meskipun di Majalengka banyak persoalan yang ingin dia selesaikan, dia membayangkan kalau tinggal di sana dia akan punya waktu lebih banyak untuk menulis dan membaca, dengan kata lain lebih produktif dalam hal-hal yang dia inginkan. Saat akhirnya tinggal di kampung halamannya itu, memang dia mempunyai waktu banyak. Tapi, lama-lama dia merasa waktunya terlalu senggang. Untuk menyelingi kegiatan tulis-menulisnya dan urusan sehari-hari, dia sering bersepeda tanpa arah keliling kota. Ditambah lagi, kemudian dia menyadari bahwa menjadi penulis yang tinggal di Majalengka menyulitkannya untuk berhubungan dengan kalangan penerbit, media massa, dan sebagainya, padahal mereka adalah sumber penghasilannya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk tinggal lagi di Jakarta. Dia mendapatkan apa yang dinginkannya tapi kemudian tidak sanggup menanggung konsekuensi keinginannya itu. Ironis.

Si Aku menilai paradigma warga Majalengka dalam beberapa kejadian.

Salah satunya adalah paradigma tentang profesi penulis. Suatu hari dia bertemu dengan seorang kenalan yang berprofesi sebagai guru. Awalnya dia bersyukur karena akhirnya dapat berbicara dengan orang yang dikiranya bisa memahami obrolannya. Lama-lama dia kecewa karena guru yang mengaku sering menulis itu justru menganggap tulisan sebagai barang dagangan belaka. Inilah yang membuatnya merasa bertanggung jawab untuk membenahi Majalengka. Tapi, sebagaimana halnya dengan kasus intrik politik, pada bab-bab selanjutnya pun tidak disebutkan keterlibatan si Aku di bidang pendidikan. Peristiwa lain yang bersangkutan dengan paradigma warga setempat tentang profesi penulis adalah saat si Aku, ibu, dan neneknya mengobrol tentang profesinya. Si Aku mencoba menjelaskannya tapi ibunya yang sebenarnya dulu sangat suka membaca buku-buku Balai Pustaka tidak bisa memahami pekerjaan sehari-hari seorang penulis, dari mana honornya, dst., apalagi neneknya. Akhirnya dia tidak berusaha lagi menjelaskan, hanya mengiyakan saja. Dia memaklumi paradigma umum tentang penulis, tapi menentang paradigma sempit kalangan yang menurutnya seharusnya tidak begitu.

Pada bagian kedua buku ini paradigma neneknya dijadikan objek pengamatan si Aku. Neneknya begitu menghayati bulan Ramadan sampai-sampai merasa sebal dengan perubahan kebiasaan berdulag anak-anak. Menurutnya, sekarang (berdasarkan latar waktu buku ini) anak-anak hanya asal berdulag saja. Penghayatan itu disandingkan dengan pengabaian neneknya atas ajaran Islam pada waktu-waktu lain, seperti tidak salat, dst.. Memang, sebagaimana pengakuannya, keluarga si Aku adalah kalangan abangan. Pada kesempatan lain neneknya sakit. Tapi, dia tidak mau diajak berobat ke dokter. Diberi obat pun tidak dimakannya. Dia baru mau diobati oleh dukun. Saat menceritakan neneknya, si Aku hanya bersikap sebagai pengamat. Dia tidak memberi penilaian, apalagi menghakimi. Rasanya neneknya lebih didudukkan sebagai contoh kasus paradigma orang-orang tua yang tinggal di suatu daerah pinggiran.

Perjalanan Penganten adalah penilaian orang yang telah terbiasa tinggal di kota atas apa-apa yang ada di kampung halamannya, suatu daerah pinggiran. Ada nada mencibir dan rasa lebih maju dalam penilaian itu.

Senin, 21 November 2016

Padang Ilalang Di Belakang Rumah - Nh Dini




Judul Buku: Padang Ilalang Di Belakang Rumah
Penulis: Nh Dini
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 1993 (terbit pertama kali tahun 1979)



Padang Ilalang Di Belakang Rumah berisi perubahan cara hidup seorang perempuan bangsawan, perubahan cara hidup suatu keluarga yang kepalanya adalah orang pergerakan, perubahan penilaian seorang lelaki terhadap Jepang, dan diselingi kisah lucu bersahaja yang terjadi pada masa pendudukan Jepang sampai kedatangan Sekutu di Semarang.

Perempuan bangsawan itu adalah Kusaminah, ibu Dini, pencerita dalam buku ini. Dia berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Pada awal pendudukan Jepang dia menolak untuk mengubah gaya hidupnya. Dia tidak mau bekerja seperti rakyat jelata. Barulah saat melihat dengan mata kepala sendiri temannya yang dianggapnya sama derajatnya berjualan kain di pinggir jalan, dia sedikit demi sedikit mau membuat usaha batik demi menambah nafkah keluarganya.

Perubahan lainnya tampak dalam sikapnya terhadap percintaan Heratih, anak sulungnya, dengan Utono, seorang pemuda rekan kerja Heratih di kantor telepon. Suatu hari saat Utono melakukan pendekatan, Kusaminah marah-marah karena Utono mengajak Heratih menonton berdua saja di bioskop. Dia tidak tenang anaknya begitu. Gara-gara itu dia sempat bertengkar dengan suaminya yang lebih moderat dalam memandang pergaulan muda-mudi masa itu. Barulah setelah itu Kusaminah lebih maklum terhadap Heratih dan Utono. Misalnya, dia memperbolehkan mereka bepergian asalkan setidaknya ditemani oleh salah seorang adik Heratih.

Lelaki itu adalah Salyowijoyo, ayah Dini. Pada awal kedatangan Jepang, sebagaimana kebanyakan orang, dia merasa mendapatkan harapan akan hidup yang lebih baik daripada zaman Belanda. Dia perseptif melihat perkembangan keadaan. Setelah makin sering melihat prajurit Jepang bersikap seenaknya pada penduduk –misalnya, mereka menyuruh warga untuk menyerahkan harta bendanya—kepercayaannya terhadap Jepang memudar. Dia pun menyadari kaburnya prajurit-prajurit Jepang setelah beberapa pertempuran. Ditambah lagi, dia mendapatkan banyak informasi dari iparnya. Oleh karena itu, dia sigap berusaha menjaga keselamatan keluarganya, dan memastikan agar semua mendapatkan cukup makanan.
Kepala keluarga yang berkecimpung dalam pergerakan adalah Iman Sujahri, adik Salyowijoyo. Dia pindah ke Semarang dari Jawa Timur bersama Edi Sedyawati, anaknya, dan istrinya yang hamil tua. Iman Sujahri bekerja di kantor walikota sambil diam-diam melakukan kegiatan pergerakan. Oleh karena itu, dia sangat sibuk dan sebentar sekali ada di rumah. Saat Bibi Dini tinggal di rumah sakit selama masa menjelang dan pasca-melahirkan, Dini sering bermalam di rumah Iman Sujahri. Di situlah dia menyadari bahwa Edi adalah anak yang dididik orang tuanya ala Eropa sehingga asing dengan budaya Jawa macam wayang. Barulah saat sering bermain dengan Dini atau keluarganya, Edi mengenal budaya Jawa, dan bahkan menjadi gandrung dengan wayang dan sering meniru-nirukan wayang orang yang mereka tonton. Pada kesempatan ini pula Dini dan Edi merasakan dampak kesibukan Iman Sujahri dan kehamilan ibu Edi. Mereka kelaparan karena orang yang dipercaya untuk menjaga rumah terlalu banyak membuat aturan. Serba tidak boleh. Tapi, karena inilah ikatan batin antara Dini dan Edi menjadi kuat.

Terlepas dari keduanya saling menolong, terdapat perbedaan sikap politis antara Salyowijoyo dan Iman Sujahri. Salyowijoyo sadar politik tapi memilih tidak terlalu (atau setidaknya tidak secara eksplisit) terlibat dalam pergerakan politik, sedangkan Iman Sujahri sangat terlibat. Keterlibatan inilah juga yang membuat Iman Sujahri mesti berpindah-pindah. Sikap berbahasanya pun menunjukkan sikap politisnya. Iman Sujahri sehari-hari menggunakan bahasa Belanda dan jarang menggunakan bahasa Jawa atau Melayu, sedangkan Salyowijoyo lebih sering menggunakan bahasa Jawa walaupun dia bisa berbahasa Belanda. Salyowijoyo lebih anti-Belanda ketimbang Iman Sujahri. Makanya, saat Jepang datang dia pada awalnya merasakan timbulnya harapan, sedangkan sejak zaman Belanda Iman Sujahri selalu berpindah-pindah dan saat pendudukan Jepang dia diawasi.

Persoalan-persoalan serius itu diselingi oleh kisah-kisah lucu. Kebanyakan kisah lucu ini berkaitan dengan binatang. Misalnya, tentang asal mula ejekan Banteng pada Teguh, kakak Dini. Awalnya adalah Teguh mendapatkan kartu bergambar banteng terhimpit pohon saat diramal oleh peramal kartu gelatik. Tak lama setelah itu dia terhimpit lama di pohon saat disuruh mengambilkan belimbing. Kisah lainnya adalah saat Dini dan kakak-kakaknya bertengkar kekanak-kanakan. Mereka saling mencorat-coret tembok jamban dengan ejekan-ejekan. Bapaknya malah ikut-ikutan sampai ditegur ibunya. Kisah lainnya lagi adalah tentang jalak peliharaan mereka yang mempunyai perbendaharaan kata ejekan karena mereka sering berkata begitu di depannya.

Padang Ilalang Di Belakang Rumah berisi kisah orang-orang yang berusaha menyesuaikan diri untuk bisa sintas di tengah masa peperangan yang bergolak, yang kegawatannya diimbangi oleh kisah-kisah lucu yang bersahaja.