Senin, 20 Maret 2017

Astiti Rahayu - Iskasiah Sumarto


Judul Buku
:
Astiti Rahayu
Penulis
:
Iskasiah Sumarto
Penerbit
:
Pustaka Jaya
Tahun Terbit
:
1981 (terbit pertama kali tahun 1976)




Astiti Rahayu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang bergulat dengan tuntutan akademik, kerja sambilan sebagai pemandu wisata, dan gejolak perasaannya terhadap beberapa lelaki dalam kesehariannya sebagai penghuni asrama khusus putri di Yogyakarta pada tahun ‘70an.

Di sini kegelisahan mahasiswa pejuang skripsi tampak pada penundaan mengerjakannya. Selama beberapa semester kuliah dibengkalaikannya. Dia malah asyik bekerja sebagai pemandu wisata yang berkantor di depan Hotel Ambarukmo. Ada nada kurang antusias dalam pembicaraannya tentang kuliah –dan kemudian skripsi, sementara dia tampak sangat menikmati kerja paruh waktunya. Walaupun ada sedikit pembicaraan soal ekonomi, keputusan ini diambilnya lebih sebagai pelariannya menuju hari-hari yang lebih hidup. Meskipun begitu, dia merasa tertekan juga dengan kenyataan bahwa kuliahnya telat dua tahun.

Dia memandang muram urusan percintaan. Rutinitas apel malam Minggu yang memenuhi ruang tamu asramanya dan kenyataan bahwa adiknya lebih fasih berurusan dengan lelaki ketimbang dirinya menjadi sesuatu yang direnunginya. Mahdi, teman dekat yang ditaksirnya secara platonis, malah berpacaran dengan perempuan lain. Saat menyadarinya dia menjadi sangat melankolis sampai-sampai jadi sering menulis puisi. Harman, atasannya di biro perjalanan yang lebih tengil dari Mahdi, ternyata memberinya harapan palsu saat Astiti menyadari bahwa dia tampak sangat akrab dengan perempuan lain walaupun mereka sempat mengalami masa-masa yang manis. Sebenarnya dia sempat mengalami percintaan yang sangat manis dengan David Lansell, seorang kontraktor pasir besi di Padikan, kampung halamannya. David sangat memperlakukannya seperti seorang putri. Tapi, pada akhirnya hubungan mereka kandas. Astiti adalah tuna asmara yang durja.

Astiti adalah tipe perempuan yang kata orang tomboy walaupun sisi femininnya menyembul-nyembul juga, seperti tampak dalam dambaannya tentang kisah cinta yang manis. Lebih dalam lagi, dia memiliki watak perempuan modern yang tidak mau didikte oleh norma lama. Dia merasa keberatan saat seorang lelaki mengaturnya untuk memakai rok dan berhenti pakai jins. Dia juga tidak merasa terlalu keberatan saat adiknya hendak melangkahinya menikah, suatu hal yang dalam kepercayaan Jawa bakal mempengaruhi jodoh. Dia juga terus berusaha memberikan pengertian pada orang tuanya yang tidak menyetujui hubungan dia dan David walaupun kemudian dia menyerah pada jurang agama di antara mereka.

Ada keterombang-ambingan dan ketidakmenentuan arah dalam Astiti Rahayu. Dan itulah yang membuat Astiti terbentur-bentur pada urusan kuliah, kerja, dan jejaka.

1 komentar:

  1. suka sekali dengan novel ini. Karena sederhana tapi plot cerita terasa hidup dan natural.

    BalasHapus