Senin, 10 Juli 2017

Perahu Kertas - Dewi Lestari




Judul Buku: Perahu Kertas
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit:  Bentang Pustaka & Truedee Pustaka Sejati
Tahun Terbit: 2009




Siapa sih yang tidak punya keinginan, baik yang sederhana maupun yang tinggi-tinggi atau yang biasa disebut cita-cita? Siapa pun itu, orang yang punya keinginan akrab dengan yang namanya benturan keadaan. Inilah yang kemudian memberi pilihan, dobrak, kompromi, atau lupakan sama sekali. Sederhana. Tapi, kalau kita sedang mengalami situasi itu, wah, jangan tanya. Nah, inilah persoalan yang terejawantah beragam rupa dalam Perahu Kertas karya Dee alias Dewi Lestari.

Wujud pertama persoalan ini adalah wujudnya yang konvensional: cita-cita menyangkut bidang yang ingin ditekuni dua tokoh utamanya. Kugy ingin jadi juru dongeng dan Keenan ingin jadi pelukis. Keduanya cukup mahir di bidangnya. Tapi, hal itu dibenturkan dengan keadaan dalam buku ini. Dongeng bukan jenis cerita yang “diakui” untuk memungkinkan Kugy berkarir sebagai penulis. Sementara itu, Keenan dilarang bapaknya yang memiliki trading company untuk menggeluti seni lukis. Intensitas benturan keduanya berbeda, dan dengan demikian, reaksi keduanya berbeda. Benturan Kugy tidak intens. Dia pun sadar diri tentang kedudukan dongeng di kancah penulisan. Makanya, dia tidak masalah saat mesti menulis bukan dongeng. Kontras dengan itu, benturan Keenan sangat intens, yakni bapaknya memaksanya untuk kuliah ekonomi dan melarangnya untuk berhubungan dengan Wayan, seorang pelukis kenalan keluarga mereka. Makanya, Keenan cenderung memberontak dan emosional. Inilah yang membuat sikapnya atas bidangnya agak kurang perhitungan. Begitu dapat kabar dari Wanda soal lukisannya terjual, Keenan langsung ingin mengundurkan diri dari kampus dan fokus melukis saja, dan menjalani hidup kere. Lebih kentara lagi bisa dilihat dalam sikapnya terhadap aspek jual-beli seni rupa. Pandangannya agak naif dalam melihat peran kurator dan galeri dalam sistem itu. Lihat saja sikapnya dalam berhubungan dengan Galeri Warsita milik bapak Wanda. Kesungkanan dalam hal uang juga masih terasa saat awal-awal berkiprah di galeri Pak Wayan di Bali. Berbeda sekali dengan Kugy yang cukup dewasa dalam memandang dunia penulisan. Konflik dari perbedaan ini tampak pada kejengkelan Kugy pada Keenan saat merengek soal cara Wanda menjual karyanya. Tapi, sikap Keenan dalam hal ini berkembang seiring pengalamannya, sebagaimana tampak saat dia menggarap proyek kolaborasi dengan Kugy pada bagian akhir-akhir. Meskipun demikian, saking intensnya sikap nonkompromi Keenan itu Kugy juga cukup terpengaruh. Sebaliknya, Kugy menularkan sikap komprominya pada Keenan.

Persoalan keinginan ini dimunculkan juga dalam hal cinta. Ada tiga kubu dalam hal ini. Wanda dan Ojos adalah kubu yang sradak-sruduk walaupun Ojos bisa lebih mengendalikan diri. Keduanya cenderung secara gamblang memaksakan keinginannya. Wanda memanfaatkan kedudukannya sebagai kurator untuk menyiasati Keenan. Ojos mendesak Kugy untuk ikut liburan ke Bali, padahal keadaannya tidak memungkinkan. Ketika cinta yang mereka inginkan tidak didapatkan, mereka meledak. Luhde dan Remi sebaliknya. Ketika menyadari bahwa Keenan dan Kugy mustahil untuk mereka dapatkan, mereka cenderung berusaha untuk menguasai dirinya agar merelakannya. Luhde lebih kalem. Remi sebenarnya sama agresifnya seperti Wanda. Hanya saja geraknya lebih elegan, dan berbeda dengan Wanda yang tidak terlalu dicintai Keenan, Remi dicintai Kugy. Di antara kedua kubu itu terdapat Kugy dan Keenan yang cenderung menelan sendiri rasa cintanya, tidak menggamblangkannya, dan kemudian mengalami kompromi-kompromi yang sebenarnya kurang disukainya. Sejak awal pertemuan mereka sudah jelas bahwa keduanya saling jatuh hati. Keduanya saling melengkapi. Kugy yang sebenarnya hanya acak-acakan di permukaannya saja menyuntikkan keteraturan pada Keenan yang meledak-ledak. Sebaliknya, Keenan mengobarkan Kugy. Dalam perjalanannya, keduanya bahkan cukup mesra. Hanya saja mereka tidak menyatakannya secara gamblang. Kesulitan untuk menyatakan perasaan itu diperparah oleh banyak salah paham yang menjadi teknik berulang untuk meningkatkan ketegangan cerita.

Dalam perkembangan konflik-konflik itu, waktu berperan penting. Secara eksplisit waktu cerita ini berkisar antara tahun 1999 dan 2003, ditambah satu bab yang keterangan waktunya adalah “hari ini”. Waktu selama itu berpengaruh pada perkembangan psikologis tokoh-tokohnya. Misalnya, keberjarakan Kugy dari Noni, karibnya itu, diperintens oleh kesibukan Kugy di Sakola Alit dan hasratnya untuk cepat lulus kuliah selama beberapa tahun. Keputusan Keenan untuk mengambil alih perusahaan bapaknya saat bapaknya sakit akan terasa ujug-ujug kalau tidak ditekankan bahwa Keenan cukup lama digembleng  oleh pengalaman di Bali. Waktu terutama berpengaruh pada perasaan Kugy dan Keenan. Lamanya mereka saling berjauhan menyebabkan mereka mengambil keputusan penting perihal perasaannya.

Perahu Kertas adalah tentang bagaimana waktu membolak-balikkan orang ke dalam keadaan-keadaan yang menuntutnya untuk memilih antara berkeras, berkompromi, atau melupakan cita dan cintanya. Pada akhirnya waktu juga yang akan menguak manalah yang kita pilih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar